Cibinong, Indonesia - Atlet lempar lembing asal Bengkulu Egi Patli Pranata menjadi peraih medali emas terakhir pada hari pertama Kejuaraan nasional U18, U20 dan Senior yang berlangsung di Stadion Pakansari, Cibinong Kabupaten Bogor, sore tadi. Egi yang baru saja memecahkan rekor ASEAN School Games 2019 di Semarang, pekan lalu, berhasil mencatatkan lemparan terjauhnya sejauh 65,01m yang merupakan catatan rekor nasional baru lempar lembing yunior putra. Egi memecahkan rekornas atas nama  Abdul Hafiz yang dibuat lima tahun lalu yaitu dengan lemparan sejauh 63,60 m. 

Medali perak diraih atlet Jawa Timur, Dedi Arum Setiawan yang mencatat lemparan sejauh 59,44 M. sementara perunggu diraih atlet Sumatera Barat Erit Martahiret (55,15 M). Dengan hasil ini, Bengkulu sukses masuk enam besar peraih medali pada hari pertama Kejurnas. Tim Jawa Timur masih mendominasi perolehan medali dengan pencapaian berupa 6 medali emas, dan 2 perak. Sementara di posisi kedua ditempati tim tuan rumah Jawa Barat dengan 3 medali emas, 1 perak dan 1 perunggu. tim Atletik DKI Jakarta berada di posisi ketiga dengan 1 emas, 1 perak dan 3 perunggu.   

 

Perolehan Medali Kejurnas U18, U20 dan Senior 

1) Jawa Timur      Emas (6), Perak (2) Perunggu (0)
2) Jawa Barat       Emas (3), Perak (1), Perunggu (1) 
3) DKI Jakarta      Emas (1), Perak (1), Perunggu (3)
4) NTT                Emas (1) Perak (0)  Perunggu (0)
5)  Bali                Emas (1) Perak (0) Perunggu (0)
6)  Bengkulu        Emas (1) Perak (0)  Perunggu (0) 
7)  Sumatera Utara  Emas (1)   Perak (0) Perunggu (0) 
8)  Sumatera Barat  Emas (0)   Perak (3) Perunggu (2) 
9)  NTB              Emas (0) Perak (1), Perunggu (2) 
10) Papua           Emas (0) Perak (1), Perunggu (1) 
11) Banten          Emas (0) Perak (1), Perunggu (1)
12) Bangka Belitung  Emas (0) Perak (1), Perunggu (1) 
13) Riau             Emas (0) Perak (1) Perunggu (0)
14) D.I. Yogyakarta   Emas (0)  Perak (1) Perunggu (0)
15) Jawa Tengah       Emas (0) Perak (1) Perunggu (0)
16) Maluku          Emas (0)  Perak (0) Perunggu (1) 

Jakarta, Indonesia - Dua hari jelang perhelatan Kejuaraan Nasional Atletik U-18, U20 dan Senior diadakan, suasana stadion Pakansari Cibinong, Kabupaten Bogor mulai ramai. Sejumlah atlet dari beberapa daerah sudah mulai mengadakan latihan untuk beradaptasi dengan kondisi stadion yang bakal menjadi tempat penyelenggaraan kejurnas selama 7 hari tersebut.

Kejurnas yang akan berlangsung dari tanggal 1 Agustus sampai 7 Agustus 2019 ini dipastikan akan diikuti atlet dari  34 provinsi di seluruh Indonesia. Ketua panitia penyelenggara kejurnas Dwi Prijono mengatakan, hingga saat ini sudah ada 1071 atlet dari seluruh Indonesia yang memastikan diri akan ikut ambil bagian dalam ajang yang juga menjadi babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2020 mendatang.  Dari 1071 atlet tersebut, 332 diantaranya merupakan atlet U-18, 282 atlet atlet U-20 dan 754 atlet senior.

Sejumlah atlet nasional juga dipastikan akan turun di ajang terbesar tahun ini. Menurut Dwi, kejurnas juga akan menjadi ajang promosi dan degradasi bagi atlet pelatnas PB PASI. Apalagi, dengan rencana pelatnas PB PASI yang komposisinya akan diisi lebih banyak dengan atlet-atlet U-18 dan U-20. 

 

 

 

Cabang olahraga (cabor) atletik Indonesia berhasil meraih predikat juara umum pada ajang ASEAN Schools Games (ASG) 2019. Pada ajang yang berlangsung di stadion Tri lomba juang Semarang, Jawa Tengah, tim atletik Indonesia berhasil mendulang 11 medali emas, 8 perak, dan 5 perunggu. Raihan ini jauh melampaui target yang diberikan kemenpora yaitu 8 medali emas.

Pada hari keempat penyelenggaraan ASG cabor atletik, Senin (22/7/2019), atlet atlet yang kebanyakan berasal dari pelatnas PB PASI ini mampu mendulang 4 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu.  Empat medali emas datang dari nomor lontar martil putri, estafet 4x100 putra dan putri, serta lempar lembing putra.

Egi Patli Pranata dari nomor lempar lembing menjadi penyumbang emas terakhir bagi Indonesia. Ia sukses mencatatkan jarak lemparan sejauh 67,33 meter sekaligus memecahkan rekor ASG yang sebelumnya dipegang atlet Filipina Lozanas James dengan 66,39 meter. 

 

Perolehan Medali ASG 2019 

                     Emas        Perak       Perunggu

1. Indonesia    11            8            5

2. Thailand      8              11          11

3. Vietnam      8               6           4

4. Malaysia      6               9           11   

5. Singapura    3             0             2 

Gold Coast, Australia -Hasil membanggakan ditorehkan oleh atlet maraton Indonesia, Agus Prayogo. Pria kelahiran Bogor, 23 Agustus 1985 ini berhasil memecahkan rekor nasional half marathon ketika mengikuti ajang Gold Coast Marathon 2019 di Gold Coast, Australia, Minggu (07/07) lalu. Agus yang berpangkat Letda TNI AD ini berhasil melahap lintasan jalan raya sejauh 21 km selama dengan waktu 1 jam 06 menit 26 detik.

Agus memecahkan rekornas atas namanya sendiri ,yang dibuatnya pada ajang Singapore Open pada 2009 atau sepuluh tahun lalu. Saat itu, Agus mencatat waktu 1 jam, 7 menit dan 5 detik. Di Gold Coast, Agus menjadi atlet Asia Tenggara pertama yang masuk finish.

Sekum PB PASI Tigor Tanjung menyambut baik hasil yang diraih Agus Prayogo. Menurut Tigor, dengan wkatu tersebut, AGus berpeluang menyumbang medali emas di nomor Marathon pada SEA Games di Filipina, November 2019 mendatang.

Di ajang multievent dua tahunan itu, memang hanya akan memperlombakan nomor full marathon. ''Kami menargetkan dia menembus waktu dua jam 20 menit untuk menghidupkan peluang medali emas di SEA Games," kata Tigor.
Di Gold Coast Marathon, pelari tuan rumah Jack Rayner berhasil menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 1 jam 02 menit 30 detik. Disusul Yuki Sato dari Jepang yang lebih lambat 6 detik. Podium ketiga juga diraih oleh pelari Jepang Yuma Hattori yang menyelesaikan waktu selisih 9 detik dari Rayner.

Chongqing, China - Menutup dua seri Asian Grand Prix 2019 di Chongqing, China, tim atletik Indonesia kembali meraih medali perunggu. Kali ini, tambahan medali perunggu didapat atlet putri Eki Febri Ekawati dari nomor tolak peluru putri.

Setelah gagal di seri pertama, atlet dari Jawa barat itu berhasil memperbaiki tolakannya di putaran kedua. Eki meraih perunggu setelah tolakannya menembus 15,25 meter, di bawah atlet China, Song Jiayuan, dengan tolakan sejauh 16,73 meter dan Ka Bian dengan catatan 17,01 meter.

Menurunkan delapan atlet di kejuaraan yang berlangsung sejak 4-7 Juni, Indonesia hanya mengoleksi dua medali perunggu hingga akhir perlombaan. Sebelumnya di seri pertama, medali perunggu disumbang tim estafet Indonesia di nomor 4x100 meter. Tim yang terdiri atas Bayu Kertanegara, Eko Rimbawan, Mochammad Bisma Diwa Abina, Joko Kuncoro Adi, mencatat waktu 39,61 detik.

Sayangnya di seri kedua, mereka hanya mencatat waktu 39,79 detik dan menempati posisi keempat. Eko Rimbawan yang turun di nomor perorangan lari 100 meter putra membukukan waktu 10,48 detik atau lebih baik ketimbang di seri pertama dengan 10,61 detik. Sementara itu, Maria Londa yang di seri pertama berada di peringkat empat di nomor lompat jauh dengan lompatan sejauh 6, 30 meter, melorot ke peringkat 6 di seri kedua. Juara Asian Games 2014 ini hanya bisa melompat sejauh 6,03 meter.

 

Berikut Hasil Seri kedua: 

 

 

Estafet 4 x 100 M putra
1. Thailand 39,02
2. China 39,04
3. Kazakhstan 39,70
4. Indonesia 39.79


Sprint 100 M Putra

1. Wi Zhiqiang (China) 10,17
2. Shota Lizuka (Jepang) 10,19
3. Jiang Hengman (China) 10.33
4. Eko Rimbawan (Indonesia) 10,48 (PB)

Tolak Peluru Putri

1. Bian Ka (China) 17,01 M
2. Jiayuan Song (China) 16.73 M
3. Eki Febri Ekawati (Indonesia) 15,25 M

Lompat Jauh Putri

1. Bui Thi Thu (Vietnam) 6,32 M
2. Luying Gong (China) 6,30 M
3 Yu Ya Xien 6,16 M
4. Chen Shuiqing (China) 6,15 m
6. Maria Nathalia Londa (Indonesia) 6,03 M

 

Chongqing, China - Tim estafet putra Indonesia berhasil meraih medali perunggu dari nomor 4x100 meter Kejuaraan Atletik Asia Grand Prix 2019 seri pertama di Chongqing, China, Selasa malam (4/6). Bertempat di Chongqing Olympic Sports Centre, China, tim estafet yang bermaterikan Bayu Kertanegara, Mochammad Bisma Diwa Abina, Joko Kuncoro Adi, dan Eko Rimbawan membukukan catatan waktu 39,61 detik, di bawah Thailand (39,13 detik) dan China (38,93 detik).
Indonesia mengirimkan sebanyak delapan atlet untuk mengikuti Kejuaraan Atletik Asia Grand Prix China yang berlangsung 4-7 Juni. Selain tim estafet, andalan Indonesia Lalu Muhammad Zohri dan Eko Rimbawan juga tampil di ajang yang menjadi agenda tahunan atletik Asia ini.

Namun, karena masih pemulihan atas cedera ringan di kakinya, Lalu Muhammad Zohri batal tampil. Sementara Eko yang turun juga di nomor 100 meter, menduduki peringkat kelima dengan waktu 10,61 detik.
Sementara atlet putri yang diturunkan yaitu Eki Febri Ekawati di nomor tolak peluru, dan Maria Natalia Londa untuk lompat jauh.

Berikut hasil Lengkap Asian GP 2019 seri pertama :

Estafet 4 x 100 M putra
1. China 38,93
2. Thailand 39,13
3. Indonesia 39.61
4. Kazakhstan 39,80

Sprint 100 M Putra

1. Wi Zhiqiang (China) 10,27
2. Shota Lizuka (Jepang) 10,35
3. Jiang Hengman (China) 10.49
4. Takuya Nagata (Jepang ) 10,51
5. Eko Rimbawan (Indonesia) 10,61

Tolak Peluru Putri

1. Bian Ka (China) 17,23 M
2. Jiayuan Song (China) 16.45 M
3. Ota Aya (Jepang) 15,16 M
4. Eki Febri Ekawati (Indonesia) 15,01 M

Lompat Jauh Putri

1. Luying Gong (China) 6,47 M
2. Chen Shuiqing (China) 6,39 m
3. Bui Thi Thu (Vietnam) 6,34 M
4. Maria Nathalia Londa (Indonesia) 6,30 M

 

 

Kedutaan besar Republik Indonesia di Qatar kembali akan mendukung penuh kegiatan atlet-atlet atletik nasional saat berlaga di Qatar. Hal itu disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Qatar Basri M. Sidehabi dalam keterangan persnya yang diterima PB PASI, senin (27/5).

“Kami akan selalu mendukung penuh para pahlawan-pahlawan olahraga yang dapat mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia,” ujar Basri. Dukungan itu muncul setelah sebelumnya Basri menghadiri undangan dari wakil Presiden Federasi Asosiasi Atletik Dunia (IAAF) Dahlan Al Hamad, di Doha, Qatar, ahad lalu (19/5).

Selain Basri, IAAF juga mengundang perwakilan diplomatik sejumlah Negara lainnya. Saat itu, IAAF meminta dukungan dari kalangan diplomatik untuk mendukung pelaksanaan kejuaraan dunia atletik yang akan berlangsung pada 27 september – 6 oktober 2019 mendatang. Dalam kejuaraan yang akan berlangsung di Stadion Internasional Khalifa Doha tersebut, diperkirakan ribuan atlet dari 213 negara akan ikut ambil bagian. Dalam sambutannya, Dahlan mengatakan bahwa kejuaraan dunia kali ini akan menjadi kesempatan bagi seluruh ekspatriat yang bekerja dan hidup di Qatar untuk menyaksikan dan mendukung atlet-atlet asal negaranya masing-masing. “Kompetisi ini di Qatar, tapi kami berharap seluruh dunia ikut merayakannya, dan menjalin kemitraan dengan masyarakat di wilayah ini,” ujar Dahlan.

Dahlan juga berharap dukungan korps diplomatic untuk mendorong agar atlet-atlet Negara masing masing dapat berkompetisi di kejuaraan atletik terbesar kedua di dunia ini. Indonesia sendiri berencana akan mengirimkan sejumlah atletnya, termasuk sprinter tercepat Asia Tenggara Lalu Muhammad Zohri.

“Kepada Dahlan, saya katakan, Indonesia akan ikut berpartisipasi dan mengirim atlet-atletnya,” ujar Basri. Selain turun di nomor 100 meter, Zohri yang sudah dipastikan lolos ke Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang juga akan turun bersama rekan-rekannya di nomor estafet 4 x 100 Meter. Basri berharap, saat di Doha nanti, Zohri kembali mencatatkan prestasi terbaiknya seperti pada kejuaraan Asia April lalu. Saat itu, Zohri berhasil memecahkan rekornas 100 M milik Suryo Agung Wibowo dengan waktu 10,17 detik. Zohri mencatat waktu 10,13 detik atau 0,04 detik lebih baik. Catatan waktu ini kembali dipertajam Zohri pada ajang Seiko Golden GP di Osaka, 19 Mei 2019 dengan waktu 10,03 detik.

 

Seusai berita kemenangan dan pemecahan rekornas Zohri di ajang Seiko Golden GP 2019 di Osaka,  kabar menggembirakan juga datang dari ajang Thailand Open 2019. Atlet senior Indonesia Maria Nathalia Londa dan Andrian berhasil mempersembahkan dua medali perak dari ajang yang diikuti atlet dari 20 negara tersebut.  

Maria yang pernah meraih medali Emas Asian Games 2014, meraih medali perak nomor lompat jauh putri setelah mampu melompat sejauh 6,18 meter. Ia hanya kalah dari pelompat jauh putri Filipina Marestella Sunang yang mampu melompat sejauh 6,23 meter. Sementara medali perunggu diraih pelompat jauh Sri lanka Laksnini Sandaradura (6,12m). Pelatih Maria Londa, I Ketut Pageh mengatakan, kondisi cuaca yang sangat panas, membuat prestasi hampir semua atlet yang turun di Thailand Open, agak menurun. Suhu di Bangkok mencapai 39 hingga 40 derajat saat siang hari.  

Namun, Pageh juga mengakui bahwa Maria sulit meraih kembali hasil terbaik yang pernah ditorehkannya yaitu 6,70 meter. Selain faktor usia, maria masih dalam proses pemulihan akibat cedera sehingga beberapa komponen latihan belum bisa dilakukan.  "Mulai bulan ini baru mulai secara pelan pelan lagi. Sepanjang persiapan lebih banyak latihan penguatan. Targetnya sepulang dari grand prix cina kita akan masuk ke program specific nya," tegas Pageh.

Sementara Andrian, masuk garis finish kedua di nomor 400 meter gawang dengan catatan waktu 52,33 detik. Medali emas diraih atlet Taiwan Chia Hsuan Yu yang mencatat waktu 50,98 detik. Medali Perunggu diraih atlet asal Srilanka Asanka Lekamlage (52,67) 

Sementara satu atlet Indonesia lainnya Suwandi Wijaya belum berhasil mencapai hasil terbaik. Suwandi gagal ke final setelah di nomor lompat jauh putra ia tak berhasil pada 3 kali lompatan awal.

Menurut Pelatih Kikin Ruhudin,  hasil yang dicapai Andrian sudah cukup bagus mengingat Andrian masih menjalani puasa. Bahkan, Kikin melihat langkah Andrian saat berlari dari mulai start hingga ke gawang ke-7  masih sesuai dengan target. "Tapi, di gawang ke-8, kecepatannya mulai menurun. Jadi program latihan untuk ke depannya akan fokus ke speed endurance dan teknik larinya," ujar Kikin. Ia memastikan akan menambah program latihan speed endurance setelah lebaran nanti.

 

 

 

 

Tigor Tanjung Berfoto bersama Eni Sumartoyo dan Presiden IAAF Sebastian Coe saat menerima Penghargaan dari AAA (dok PBPASI)

 

Keberhasilan Lalu Muhammad Zohri lolos ke Olimpiade Tokyo 2020 setelah berhasil mencatatkan waktu terbaik 10,03 detik di Kejuaraan Seiko Golden Grand Prix di Osaka, Jepang , hari ini (19/5) tak lepas dari peran Sekretaris umum PB PASI Tigor Tanjung.

Pria yang baru saja mendapat anugerah sebagai sekretaris jenderal asosiasi atletik terlama di Asia ini, yang mendorong agar Zohri bisa ikut berlaga di kejuaraan yang berlangsung di Yanmar Stadium Nagai, Osaka.

Tigor bercerita, pada awalnya, Zohri tak bisa berlomba di sejumlah ajang prestise Asia maupun dunia. Catatan waktu Zohri yang masih di bawah banyak pelari dunia, belum bisa memenuhi limit sejumlah kejuaraan atletik bergengsi dunia.

Padahal, Zohri memerlukan banyak ajang lomba untuk memenuhi target lolos ke olimpiade 2020. Zohri harus terjun di sejumlah kejuaraan atletik yang terdapat di daftar agenda Federasi Asosiasi Atletik Dunia (IAAF).

“Saya menghubungi beberapa organizer Diamond League IAAF tapi Zohri, Emil & Safwaturahman dianggap belum pantas menjadi peserta," ujar Tigor. Selain Zohri, PB PASI juga berharap bisa mendorong pelari gawang putri Emilia Nova dan pelompat jauh Sapwaturahman bisa masuk Olimpiade 2020.

Beruntung, melalui hubungan yang baik, antara PB PASI khususnya ketua umum PB PASI Bob Hasan dan Sekjen PB PASI Tigor Tanjung,  Federasi atletik Jepang (JAAF) menawarkan beberapa kompetisi di Jepang. Tapi, khusus untuk kelas Seiko Golden GP Osaka ini, pada awalnya yang diperbolehkan hanya tim estafet 4x100.

Zohri yang juga diturunkan di nomor sprint 100 M, Emilia Nova & Safwaturahman lanjut Tigor, hanya ditawarkan ikut pada kompetisi lain. Belakangan, tawaran itu urung dilakukan karena jadwalnya terlalu dekat dengan Atletik Asian Championships di Doha April lalu.

“Nah, setelah Zohri merebut medali perak dengan catatan waktu 10.13 detik di Doha, saya mendesak kembali penyelenggara Seiko GP. Antara lain saya sebutkan Zohri hanya kalah dari sprinter Jepang Yoshinide di Doha (Yoshinide ikut bertarung di Seiko GP ini),” katanya.

Akhirnya lanjut Tigor, pihak penyelenggara memberikan Zohri lintasan dengan status pelari undangan.

“Dengan status ini, biaya Shinkansen (kereta) Yokohama-Osaka dan akomodasi Zohri selama di Osaka pada 13-20 Mei ditanggung penyelenggara," ujar Tigor.

Upaya keras Tigor ini akhirnya membuahkan hasil. Zohri berhasil membuktikan bahwa dia layak untuk bersanding dengan sprinter sprinter dunia lainnya.

Tigor sendiri berharap seiring dengan peningkatan prestasi, atlet-atlet Indonesia lainnya juga dapat berpartisipasi dalam kompetisi-kompetisi bergengsi sehingga mampu mengumpulkan skor untuk kualifikasi Olimpiade 2020.

Lalu Muhammad Zohri dan Tim Estafet  berfoto bersama manager tim Indonesia Ikki Hasan (dok PB PASI)

 

 

Sprinter muda Indonesia Lalu Muhammad Zohri kembali berhasil memecahkan rekor nasional (Rekornas) sprint 100M dengan catatan waktu 10.03 detik menjadi 10.13 detik. Catatan waktu itu didapat Zohri dalam kejuaraan Seiko golden Grand Prix 2019 yang berlangsung di Yanmar Stadium Nagai Osaka, Jepang Minggu (19/5).

Dengan catatan waktu itu, Zohri dipastikan lolos ke Olimpiade 2020 dan Kejuaraan dunia di Doha pada september 2019 nanti.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Bob Hasan mengapresiasi apa yang diraih Zohri.i, meski belum sepenuhnya memuaskan dan sesuai target tembus 10.00 detik.

“Kami mengucapkan selamat kepada Zohri, mampu memecahkan Rekornas. Namun saya sempat tegur dia karena belum tembus 10.00 sebagaimana yang diharapkan, padahal tinggal sekedipan mata saja," ujar Bob Hasan.

Meski begitu, Bob Hasan berharap ke depannya Zohri dapat mencapai target yang diinginkan.

Berlari di lintasan 9, Zohri yang turun di kejuaraan ini sebagai undangan, tampil gemilang dengan finis di urutan ketiga. Sprinter terbaik Indonesia itu hanya kalah dari juara dunia asal Amerika Serikat, Justlin Gatlin yang mencatat waktu 10,00 dan sprinter tuan rumah Jepang Kiryu Yoshihide (10,01).

Usai pertandingan Zohri berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang terus mendukungnya. “Pertama saya berterima kasih kepada masyarakat Indonesia, khusus NTB, Kabupaten Lombok Utara. Saya bersyukur kepada Allah SWT. Masyarakat Indonesia atas doanya semua, khususnya PB Pasi, Pak Bob Hasan dan jajaran PB Pasi lainnya. Semuanya saya berterima kasih berkat doa dan Alhamdulillah prestasi terbaik,” katanya.

Sayangnya, saat turun di nomor estafet 4 x 100 M putra, Zohri yang turun bersama Eko Rimbawan, Bayu Kertanegara dan Bisma belum berhasil memperbaiki catatan waktunya. Jeda waktu yang hanya dua jam dari final 100 meter, bisa jadi membuat Zohri kelelahan sehingga tak dapat tampil maksimal.  Tim estafet Indonesia hanya berada di urutan kelima dengan waktu 39,76 detik, atau lebih lambat ketimbang waktu saat di kejuaraan Atletik Asia di Doha, yang mencatat waktu terbaik 39,39 detik. 

Page 1 of 13
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…