Tuesday, 02 April 2013 07:02

menjaring Mutiara Hitam di Tanah Papua

Papua adalah propinsi paling ujung di timur Indonesia. Kondisi geografisnya kebanyakan masih berupa hutan belantara dan bukit serta gunung. Infrastruktur jalan di Tanah papua-begitu ia biasa disebut, sangat minim. Transportasi dari satu daerah ke daerah lain, lebih banyak menggunakan ala transportasi udara dan laut. Akibatnya, perjalanan dari tempat ke tempat lain, terasa lama, dan tentu…mahal.

 

Begitulah yang dirasakan Yoshua Takati, siswa kelas 2 SMP 2 Uta, distrik Uta, kabupaten Mimika, (29/2/2012). Bocah asli Papua ini terpaksa berlayar belasan jam mengarungi ombak untuk bisa sampai ke  kota Timika, ibukota Mimika. Bersama tujuh sahabatnya, Yoshua  menaiki kapal motor kecil, menempuh jarak hampir 200 km demi satu tujuan. Memperoleh satu tiket mengikuti kejuaraan lari se-Kabupaten Mimika.

“Meski cuaca buruk, kami harus sampai, siapa tau kami juara,” ucapnya bersamangat.  Pada  sabtunya, Yoshua, bersama ratusan siswa lainnya mengikuti kejuaraan “Hot Sprint’ se-kabupaten Mimika, yang digelar Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Kejuaraan yang hanya diperuntukan bagi siswa SD dan SMP ini, disambut antusias oleh masyarakat setempat. Sejak dini hari,  puluhan siswa dari SD dan SMP yang tersebar di 12 distrik di Mimika telah memadati lapangan olahraga Timika, tempat kegiatan berlangsung.

 

Tak kurang dari 370 siswa ikut ambil bagian pada kejuaraan yang baru kali pertama diselenggarakan di Timika ini. Para siswa tersebut mengikuti dua nomor yang dipertandingkan, yakni 60 meter dan estafet 8x50 meter. PB PASI sengaja memilih Timika sebagai lahan ujicoba untuk kejuaraan ‘Hot Sprint’ di tanah Papua. “Papua itu gudangnya bakat di bidang atletik,” kata Tigor  Tanjung, Sekjen PASI.

 

PB PASI berharap dengan mengadakan kejuaraan Hot Sprint di Papua, ‘mutiara -mutiara hitam’ yang masih terpendam di Papua dapat muncul dan menjadi bintang-bintang baru atletik. PB PASI berkaca pada pengalaman sukses membina sejumlah atlet berdarah Papua, seperti Franklin Buruni dan Serafi Unani. “Mereka terbukti mampu menjadi andalan Indonesia saat ini,” tambah Tigor.

Franklin dan Serafi baru saja mengharumkan nama bangsa lewat ajang SEA Games di Palembang, November 2011 lalu. Kedua atlet yang masih bersaudara ini masing-masing menyumbang medali emas nomor sprint 100 meter. Bahkan, Franklin menyumbang tiga medali emas sekaligus dari nomor 100 meter, 200 meter dan estafet 4 x 100 meter

Last modified on Tuesday, 07 May 2013 14:35
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…