Tuesday, 02 April 2013 07:06

Henny Maspaitella : Meracik Resep Ala Amerika dan Jerman

Written by
Rate this item
(5 votes)

 

Sifat cerewet dan kritis rupanya tak melulu bermakna negatif. Hal itu dibuktikan pelatih atletik Henny Maspaitella. Pelatih yang sukses membawa anak asuhannya meraih medali emas di SEA Games XXVI Palembang 2011 lalu itu, merasakan betul manfaat dari kedua sifat tersebut terhadap kemampuan dan pengetahuannya tentang dunia kepelatihan. “Saya kebetulan orangnya, dari dulu emang cerewet dan suka bertanya kalau ada yang mengganjal di hati,” kata Henny.

Henny adalah pelatih atlet Serafi Unani Unalies dan Franklin Burumi. Mantan sprinter wanita indonesia ini sukses mengasah 'permata-permata' dari Papua hingga menjadi atlet berprestasi seperti saat ini. Dari sumbangsih tenaga keduanya Indonesia mendapat empat medali emas SEA Games 2011 lalu. Menurut Henny, kemampuannya melatih atlet tak bisa dilepaskan dari pengalamanya sebagai atlet di era 1980an. Henny yang pernah memegang rekor nasional 100 meter putri ini, pernah dikirim berlatih ke luar negeri, baik sebagai atlet maupun sebagai pelatih. 

Ia diberangkatkan PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI)  untuk berlatih ke Universitas Houston Amerika Serikat. Selama empat bulan, ia dilatih pelatih kenamaan Tom Tellez. Pelatih atletik di universitas Houston itu dikenal sebagai pelatih bertangan dingin. Sejumlah sprinter negeri Paman Sam  lahir berkat sentuhannya. Sebut saja, mantan pemecah rekor dunia 100 meter, Carl lewis.  

Sepanjang karirnya, Carl lewis juga berhasil mengoleksi  9 medali emas olimpiade dan 8 medali emas kejuaraan dunia atletik. Bahkan atas prestasinya itu, Carl Lewis yang belakangan kemudian terjun ke layar perak sebagai aktor, diberi penghargaan sebagai  “Olahragawan abad ini” oleh komite olimpiade internasional (IOC).  Selain Carl Lewis, anak didik Tom Tellez lainnya diantaranya, peraih medali emas 200 meter Olimpiade 1988 Joe DeLoach dan pemegang rekor dunia Leroy Burrell. Henny sendiri sempat berlatih bersama Carl Lewis.

 “Metode yang diajarkannya lebih banyak menyangkut bagaimana meningkatkan power saat berlari,” kata Henny.  Selama dilatih Tom Tellez, Henny mengakui kalau dirinyalah satu-satunya atlet yang paling sering ‘cerewet’ untuk bertanya. “Ada yang aneh sedikit, saya pasti bertanya,” kata Henny, tertawa.   

Namun, ‘kecerewetannya’ itu tak sia-sia. Dengan segudang pengalaman dna pengetahuan yang didapatnya tersebut, sekembali ke tanah air, Henny mampu  memecahkan rekor nasional 100 meter yang sebelumnya dipegang sprinter Carolina Riewpassa. Henny mencatat waktu 11,62 detik atau lebih baik dari catatan Carolina yaitu 11,70 detik.

Dari pengalamanya berlatih di Amerika Serikat itu, Henny kemudian menggabungkannya dengan pengalamanya saat berlatih di Malente, Jerman. Dalam program pelatihan rutin setiap tahun bagi pelatih-pelatih atletik Indonesia itu, porsi latihan yang diajarkan lebih banyak menyangkut teknik berlari. Dari mulai latihan ketahanan tubuh hingga latihan teknik saat berlari. 

Dari dua pengalaman berlatih itulah kemudian Henny menjadikannya sebagai metode latihan untuk anak-anak didiknya. Selain meningkatkan power atau tenaga dari para atlet, ia juga memberikan latihan teknik berlari efektif. “Jadi, saya combine, kedua metode latihan tersebut buat ‘anak-anak’ saya,” kata Henny.

Hasilnya,  selain Franklin Burumi dan Serafi Unani, sejumlah atlet muda nasional lainnya kini siap menghasilkan prestasi terbaiknya, “Saya masih punya Tri Setyo Utami, yang siap untuk menjadi pendamping Serafi.”   

Read 13131 times Last modified on Friday, 26 April 2013 11:11
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…