Thursday, 23 January 2014 16:35

Kisah Si Kijang Emas Memburu Anak-anak Sumbawa

Written by
Rate this item
(5 votes)

 

Matanya langsung berkaca-kaca saat diminta bercerita tentang anak-anak yang dibinanya. Dengan suara agak terbata-bata, ia bercerita tentang anak-anak Sumbawa yang kini dibinanya menjadi atlet Atletik. “Maaf ya, saya memang suka terharu kalau bicara soal mereka (anak-anak latihnya),” kata Supiati.      

Supiati adalah pendiri klub atletik  Mayung Bulaeng Sumbawa atau yang artinya Kijang Emas Sumbawa. Klub yang baru didirikan pada maret 2013 ini kini menampung 40an atlet muda dari usia sekolah dasar hingga menengah. Bahkan, dua diantaranya tinggal bersamanya.  “Saya ingin mendidik mereka menjadi atlet-atlet nasional bahkan internasional,” tambah Supiati.  

Dulunya,  Ia sendiri  adalah seorang atlet nasional. Ia bergabung di Pelatihan nasional jangka Panjang PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia di stadion madya Senayan Jakarta, sejak masih berusia 15 tahun. Supiati kerap bersaing dengan pemegang rekornas sprint 100 meter putri nasional Irene Joseph. Keduanya sama-sama berlari di nomor 100 meter dan 200 meter.

 Bahkan, keduanya kerap bergabung dalam tim estafet putri nasional saat berlaga di ajang Internasional, seperti SEA Games. Hasil kolaborasi keduanya bersama dua sprinter lainnya yaitu Dedeh Erawati dan  Desy Sumigar diantaranya berupa tiga medali perunggu Sea Games 2001, 2003 dan 2005.    

Supiati meninggalkan pelatnas pada 2007, dan mendarmabaktikan dirinya sebagai Pegawai negeri Sipil  di kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat di Mataram. Namun, gadis kelahiran Mataram 1 Desember 1981 ini, tak pernah melupakan dunia atletik.  Bahkan, di awal 2013, hatinya terusik  untuk terjun langsung membina atletik.    

“Saya lihat, kebanyakan atlet nasional dari NTB berasal dari Sumbawa. Jadi, saya yakin, dengan pembinaan yang baik, akan lahir lebih banyak lagi atlet nasional dari Sumbawa,”  kata Supiati. Sekitar bulan Maret 2013, Supiati kemudian mengajukan perpindahan ke Sumbawa, salah satu  kabupaten di Nusa Tenggara Barat yang terletak  timur Pulau Lombok.

Ia kemudian mendirikan klub atletik yang diberi nama Mayung Bulaeng Sumbawa Atau artinya Kijang Emas Sumbawa. Ia kemudian mulai menjalin kerjasama dengan sejumlah sekolah untuk mencari atlet-atlet berbakat. Ia juga melakukan pendekatan  secara langsung ke pihak dinas pendidikan dan olahraga Sumbawa, pemerintahan daerah hingga pihak swasta untuk mendukung program pembinaanya.  

Hingga kini, sudah bergabung lebih dari 40 anak siswa SD hingga SMA yang dipandang Supiati berbakat untuk dikembangkan sebagai atlet nasional.  Lima diantaranya bahkan dipanggill PB PASI ke Jakarta untuk mengikuti seleksi atlet muda. 

Para Atlet, menurut Supiati, kebanyakan berasal dari keluarga tak mampu.  Sehingga, ketika diminta untuk dilatih Atletik, sebagian besar orang tua, tanpa ragu mengijinkannya, karena dinilai akan berdampak positif, termasuk jika sukses menjadi atlet nasional.   

Mereka, lanjut Supiati,  tak dipungut biaya sepeserpun. Semua berasal dari kantongnya sendiri. Bahkan dua diantaranya tinggal di rumahnya. “Mereka berasal dari latar belakang yang tidak mampu, tapi punya bakat luar biasa,” kata Supiati.  Ia sendiri berencana  menambah jumlah atlet yang ditampungnya di rumahnya dengan mendirikan pemusatan yang representative. “Saya sudah beli tanah, dan akan saya wakafkan untuk membuat pemusatan klub  atletik,” tutur Supiati.

Semua diberikannya secara ikhlas. “Tapi, sebagian biaya operasional, kadang saya dapat dari donatur, termasuk dari bantuan pak Bupati Sumbawa,” ujar Supiati. Ia juga kerap mendatangi pengusaha-pengusaha daerah termasuk perusahaan daerah di Sumbawa untuk mengajukan permohonan sponsor, baik berupa pemberian kaos atau beasiswa.

Totalitas SUpiati di dunia Atletik, diakuinya, telah menghanyutkannya. Bahkan, ia kerap  melupakan kehidapan pribadinya sendiri.  Gadis yang kini berusia 32 tahun ini bahkan  masih belum berumahtangga. “Selama ini Saya konsentrasi untuk menjadi atlet dan mengurus anak-anak (atlet muda atletik) dulu,” ujar Supiati. “Tapi mungkin juga karena belum dapat jodoh juga,” tambah SUpiati,  sambil tertawa. Namun yang pasti, menurut Supiati, ia berharap pasangannya nanti adalah orang yang juga peduli pada atlet-atlet binaanya dan mendukung karirnya sebagai pelatih.

 

Read 12405 times Last modified on Monday, 25 April 2016 18:01
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…