Wednesday, 14 May 2014 11:47

Cegah Generasi Hilang Atletik

Suasana saat Atlet berlatih di Stadion Atletik Rawamangun, selasa, 13 Mei 2014  

 

Antusiasme atlet daerah untuk ikut dalam Kejuaraan Nasional Atletik Yunior dan Remaja 2014, (Kejurnas 2014)  mendapat apresiasi positif dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Betapa tidak, Kejurnas yang  digelar di Stadion GOR Rawamangun, Jakarta Timur  bakal diikuti oleh 825 atlet dari 32 propinsi di seluruh Indonesia.  Jumlah tersebut belum termasuk, atlet SD dan SMP lokal, yang ikut lomba lari 60 M dan 8x 50 meter yang jumlahnya mencapai 300-an atlet. “Suatu hal yang sangat positif,” ujar Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung.

Daerah terbanyak yang mengirimkan atletnya yaitu tim DKI Jakarta dengan 60 atlet,. Diikuti  Papua (58 atlet) , Papua Barat  (52 atlet),  Jatim ( 51 atlet), dan  Jabar (48 atlet). Atlet-atlet muda dan remaja yang kini bergabung di Pelatnas ikut serta juga di ajang Kejurnas. Mereka akan bertanding di 78 nomor perlombaan. Sementara tiga propinsi yang tidak dapat mengirimkan atletnya ke Kejurnas karena beberapa alasan; diantaranya  kesiapan atlet dan pergantian pimpinan daerah yaitu Sulawesi Barat, Maluku Utara dan Kepulauan Riau. 

Menurut Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung, ajang Kejurnas bisa dijadikan ajang tolak ukur bagi PB PASI maupun Pengurus daerah PASI untuk mengetahui kesiapan atlet-atlet atletik masing-masing dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja yang akan berlangsung pertama kali di Surabaya, Desember 2014 mendatang. 

Selain itu, Kejurnas kali ini, menurut Tigor, juga menjadi ajang bagi para pencari bakat PB PASI untuk merekrut atlet-atlet muda potensial untuk dimasukan dalam Pelatnas PB PASI di Jakarta. Saat ini, Tigor menambahkan, PB PASI mengalami persoalan regenerasi atlet dengan terjadinya gap yang cukup besar antara prestasi atlet remaja, yunior dan senior. Banyak atlet yang bertransformasi ke tingkat yang lebih tinggi, justru malah ‘menghilang’.

Maksudnya, para atlet muda yang di usia remaja menunjukan prestasi positif, justru kedodoran saat harus naik tingkat ke level yunior atau bahkan senior atau bahkan harus terhenti sama sekali. Selain karena factor pendidikan atau pekerjaan yang kerap menjadi penghenti prestasi suatu atlet, gap antara prestasi atlet di tingkat remaja, dengan tingkat yunior atau senior, juga membawa masalah.

Ia mencontohkan sprinter muda putri Ulfa Silpiana yang memegang rekornas remaja  200 M dengan catatan waktu  25,09 detik.  Waktu catatannya itu ternyata masih cukup jauh  dengan rekor yunior yang masih dipegang mantan atlet nasional Irene Truice Joseph yaitu 23,92 detik. Begitu pula di nomor sprint 100 meter putra, dimana rekornas masih dipegang mantan atlet Suryo Agung Wibowo, di 10,17 detik, belum dapat didekati oleh atlet-atlet remaja  atau yunior yang ada saat ini.

Bahkan, di tingkat remaja, catatan waktu sprint 100 M masih di bawah 11 detik. “Jarak yang cukup jauh, ini yang berusaha kita dekatkan, sehingga proses regenerasi berjalan mulus,” ujar Tigor Tanjung yang juga wakil ketua federasi Atletik Asia ini. Karena itu, Ia berharap akan ada kejutan prestasi membanggakan dari ajang Kejurnas kali ini.

 

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…