Monday, 19 May 2014 13:11

Kejurnas Lahirkan Atlet Atletik Indonesia Hebat


Bak magnet, pesona Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo langsung mengundang keriuhan ratusan pelajar dan mahasiswa yang ada di stadion Atletik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rawamangun, Jakarta Timur, sabtu pekan lalu. Mereka langsung berebut untuk bersalaman dan berfoto ria dengan calon presiden yang akrab disapa Jokowi itu. Kejuaraan Nasional Atletik Yunior dan Remaja 2014 (Kejurnas) yang sedang berlangsungpun terpaksa dihentikan beberapa saat. “Hidup Pak Jokowi, Hidup Pak Jokowi,” demikian teriakan yang muncul dari tribun penonton.       
 
Jokowi hadir di ajang Kejurnas yang diselenggarakan Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Dalam kesempatan yang singkat tersebut, Jokowi mengalungkan medali emas kepada atlet nasional asal DKI Jakarta Irene Alisjahbana yang berhasil menjadi juara di nomor 100 dan 200 meter yunior putri. “Selamat ya, terus berprestasi,” kata Jokowi, singkat.  

Selain Jokowi, Kejurnas juga dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar serta wakil dari beberapa perusahaan nasional seperti Dirut bank Mutiara Sukoriyanto Saputro, dan Direksi PT Freeport Indonesia. Dalam kesempatan tersebut Jokowi juga sempat berfoto dengan para atlet dan official peserta kejurnas 2014 dari berbagai daerah. "Ini kesempatan langka, bisa foto bareng calon presiden," ujar salah satu atlet daerah yang ikut kejurnas.        

Kejurnas yang berlangsung sejak rabu hingga sabtu pekan lalu ini diikuti tak kurang dari 825 peserta dari 31 Propinsi. Mereka turun di 72 nomor perlombaan baik di nomor remaja maupun senior Putra Putri. Hingga akhir perlombaan, kontingen Jawa Barat akhirnya keluar sebagai juara umum Kejurnas 2014. Jawa Barat yang diperkuat sejumlah atlet pelatnas seperti Tresna Puspita Ayu dan Arasy Akbar Witarsa  berhasil  mengoleksi 18 medali emas, 11 perak dan 14 perunggu.

Tresna menyumbang dua medali emas dari dua nomor spesialisasinya, yaitu lempar cakram dan lontar martil. Sedangkan, Arasy Akbar menyumbang medali emas dari nomor 110 meter gawang yunior putra. Jawa Barat mengungguli tuan rumah DKI Jakarta yang berada di peringkat kedua dengan perolehan 15 emas, 8 perak dan 5 perunggu dan Jawa TImur di peringkat ketiga dengan perolehan 9 medali emas , 13 perak dan 7 perunggu.

Sartono, pelatih yang mendampingi kontingen Jawa Barat tak dapat menyembunyikan kebahagiannya saat mengetahui kontingennya berhasil menjadi juara umum. Ia mengatakan, bahwa prestasi ini melebih target yang ditetapkan. “Target kami sebenarnya 14 emas. Tapi, Alhamdullilah sekarang kita memperoleh 18 emas, 11 perak, 14 perunggu. Jauh melebihi target,” katanya saat ditemui di GOR Rawamangun .
Dengan hasil ini, Jawa Barat berhasil menggusur dominasi  Jawa Timur yang beberapa tahun terakhir, selalu menjadi juara umum. Pada Kejurnas atletik Yunior dan Remaja 2013, Jawa Timur menjadi juara umum dengan 14 emas, 11 perak dan 11 perunggu. Menurunya prestasi Jawa Timur, tertolong oleh keberhasilan salah satu atletnya memecahkan rekor nasional.  

Adalah Narta Hani Sugara yang berhasil memecahkan rekornas lempar cakram. Atlet bertubuh tinggi besar ini memecahkan rekornas lempar cakram yunior putra dengan mampu melempar sejauh 47,89 meter. Rekornas sebelumnya dipegang Taufik Nurahman dengan lemparan sejauh 44,76 M. “Alhamdulillah, bisa pecahin rekor,” kata Narta.

Selain Narta, pemecahan rekornas juga dilakukan oleh atlet Sumatera Barat Yulianti Utari dan atlet Bangka Belitung M Ardianto serta atlet Gorontalo Firman R Fasi. Yulianti dan M Ardianto memecahkan rekronas di nomor lari 3000 Meter remaja Putri-Putra.  Dengan catatan waktu 10;21.99, Yulianti memecahkan rekornas sebelumnya yang dipegang atlet NTT Apriana Paijo (10:30.70). Sedangkan Ardianto mencatat waktu  9;08.4 detik memecahkan rekornas atas nama atlet Jawa Tengah Beny Santoso (9:09.88)

Sementara Atlet Gorontalo Firman R Fasi berhasil memecahkan rekornas Remaja Putra 2000 M St chase. Firman mencatat waktu 6;32.06 menit atau jauh lebih baik ketimbang rekornas sebelumnya yang dipegang Imam Kristiawan dengan waktu 6;42.79.

Atlet Pelatnas PB PASI Tunjukan Peningkatan

Selain pemecahan rekornas, sejumlah atlet yang selama ini berada di pemusatan latihan nasional juga berhasil mencatat prestasi . Selain Irene Alisjahbana yang berhasil menyabet dua medali emas dan satu perak sekaligus lewat nomor 100 dan 200 meter yunior putri serta estafet yunior, ATlet Tresna Puspita juga berhasil mendulang dua medali emas. “Perasaannya sangat senang karena bisa mempertahankan juara. Tahun lalu juga juara. Bahagia banget,” kata Irene Alisjahbana kepada GATRA.

Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung yang ditemui saat tengah asik menyaksikan lomba dari atas tribun stadion mengatakan, ajang Kejurnas ini bisa dijadikan tolok ukur bagi PB PASI maupun Pengurus daerah PASI untuk mengetahui kesiapan atlet-atlet atletik baik dari daerah maupun yang dibina PB PASI lewat Pelatnas jangka Panjang PB PASI dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja yang akan berlangsung pertama kali di Surabaya, Desember 2014 mendatang.

Selain itu, Kejurnas kali ini, menurut Tigor, juga menjadi ajang bagi para pencari bakat PB PASI untuk merekrut atlet-atlet muda potensial untuk dimasukan dalam Program Pelatnas PB PASI di Jakarta. Saat ini, Tigor menambahkan, PB PASI mengalami persoalan regenerasi atlet dengan terjadinya gap yang cukup besar antara prestasi atlet remaja, yunior dan senior. Banyak atlet yang bertransformasi ke tingkat yang lebih tinggi, justru malah ‘menghilang’.

“Sebenarnya kalau mau cari bibit atlet itu lebih tepatnya di daerah dengan mengadakan ajang-ajang di daerah, dan kejurnas ini konsepnya adalah event puncak prestasi. Namun, karena tidak semua daerah mempunyai kejuaraan daerah yang reguler maka tidak jarang kita ketemu bibitnya di kejurnas seperti ini,” ujar Tigor.

Pria yang puluhan tahun ikut membina Atletik bersama ketua Umum PB PASI Bob Hasan ini  juga menambahkan, usai kejurnas, bagian pembinaan PB PASI akan mengevaluasi hasil kejurnas dan memilih atlet-atlet yang bisa dimasukan dalam program Pelatnas.

Program pelatnas Jangka panjang PB PASI  merupakan salah satu program yang dilaksanakan PB PASI dengan mandiri. Beberapa atlet yang berhasil menjadi juara di ajang nasional dan internasional merasakan betapa besar pengaruh pelatnas bagi mereka. Salah satunya Ken Ayuthaya Purnama yang baru saja meraih medali perak di ajang SEA Youth Athletics Championshis di Nay Pyi Taw, Myanmar, akhir April 2014 lalu. .

Menurut gadis manis berambut panjang ini, ia merasakan kemajuan yang sangat pesat justru  setelah masuk di Pelatnas. "Program-program (latihan) yang diberikan sangat bagus,” ujar Ken Ayu. Tak heran jika, atlet yang saat ini sedang mengikuti kualifikasi olimpiade remaja di Bangkok ini,  punya harapan dan keyakinan besar bahwa atlet atletik binaan Pelatnas PB PASI ke depan akan terus berprestasi di pentas-pentas internasional dan mampu memjadi atlet kelas dunia. "DI Pelatnas, kita termotivasi, untuk terus berprestasi, hari demi hari,' ujar Ken Ayu

Pelatih atletik PB PASI Kikin Ruhudin mengamini pernyataan Ken Ayu.  Menurutnya, kondisi atletik Indonesia saat ini sedang menunjukan grafik peningkatan. Ia mengambil sampel prestasi atletik SEA Games dimana, setelah sempat anjlok dengan hanya meraih satu medali emas pada ajang SEA Games di manila, langsung bangkit dan berhasil mendulang 13 medali emas di SEA Games dan membawa kontingen Indonesia menjadi juara SeA Games. Bahkan, pada SEA Gmaes berikutnya di Myanmar, tim atletik Indonesia meski tak menyamai perolehan medali di Palembang, masih mampu memenuhi target dari pemerintah untuk meraih   6 medali emas di SEA Games Myanmar. “Dulu bagus, terus jelek dan sekarang bagus lagi.,” ujarnya.

Menurut Kikin, ajang Kejurnas, merupakan ajang yang tepat untuk mencari bibit atlet yang baru. "Karena pemusatan seluruh atlet dari seluruh Indonesia bertanding di sini dan tidak perlu lagi mencari di daerah-daerah. Ini lebih efektif karena yang dikirim di sini pasti yang terbaik, tidak mungkin yang jelek,” yakin Kikin.

Meski begitu, program pencarian atlet ke daerah, menurut Kikin, tetap dilakukan. namun, yang dicari adalah atlet-atlet yang punya potensi sehingga bis adididik dari nol untuk menjadi atlet hebat di masa depan. "Mereka latihan dan dibentuk dari nol," ujar Kikin.

Menurutnya, sudah banyak atlet yang hasil pencarian di daerah dan kini berhasil menjadi atlet nasional dna berprestasi. Diantaranya, Ken Ayu dan Arasy,” kata pria yang pensiun sebagai atlet pada tahun 2004 usai PON di Palembang ini.

Kikin berharap dengan adanya Kejurnas ini, daerah-daerah bisa menyeleksi atlet-atlet terbaik mereka dan terus meningkatkan kemampuan atlet mereka agar bisa berprestasi mengharumkan nama daerah dan tentunya jika bisa mewakili Indonesia di tingkat internasional, dan bisa mengharumkan nama negara nantinya. “Kejurnas seperti ini ibaratnya “umpan” untuk atlet-atlet di daerah agar bisa terpacu. Jangan hanya berpikiran pada Kejurnas ini saja namun harus berpikiran jauh ke depan khususnya di ajang Olimpiade,” ujarnya.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…