Sunday, 11 January 2015 13:44

Danke der Trainer

 

Dieter Kollark tersenyum simpul. Antara senang dan risih, pria asal Jerman itu  melangkah kikuk menuju kursi depan di ruang Media Centre PB PASI, Stadion Madya Senayan Jakarta.  Jumat siang pekan lalu, bersama rekan senegaranya Michael Deyhle, pelatih atletik Nasional Jerman ini dipakaikan baju batik dan blankon dihadapan puluhan atlet dan pelatih nasional oleh Sekjen Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor M. Tanjung.

Pakaian nasional dan topi khas Jawa itu diberikan PB PASI sebagai tanda terimakasih atas kehadiran kedua pelatih lempar asal Jerman tersebut di Indonesia. Tak seperti rekannya Michael Deyhle yang lebih terbuka dan murah senyum, Dieter yang berasal dari wilayah bekas Jerman Timur, memang lebih pendiam. Selama lima hari, sejak senin hingga jumat pekan lalu, Michael Deyhle dan Dieter Kollark  serta dua atlet Jerman Anna Rueh dan Carolin Paesler, membagikan ilmu atletik khususnya di nomor lempar cakram, lontar martil dan tolak peluru kepada sejumlah pelatih nasional dan daerah serta atlet Pelatnas PB PASI dalam kegiatan Coaching Clinic dan Training Camp PB PASI.

“Jadwal ‘pelatnas’ mereka (Michael dan Dieter) sendiri akan segera dimulai. Jadi, Mereka harus segera kembali ke Jerman,” urai Tigor M. Tanjung.  Meski hanya singkat, menurut pria 53 tahun, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Asosiasi Atletik Asia ini, atletik Indonesia sangat beruntung bisa mendapatkan ilmu dari dua pelatih nasional Jerman, di tengah-tengah kesibukan mereka mempersiapkan tim Jerman menghadapi Olimpiade 2016. Keduanya merupakan pelatih bertangan dingin yang sudah melahirkan banyak  atlet juara dunia.  Michael Deyhle merupakan pelatih Juara Dunia lontar martil putri 2007 dan pemegang rekor dunia Betty Heidler.

Sedangkan Dieter Kollark, adalah pelatih spesialis tolak peluru dan lempar cakram yang telah melahirkan Juara dunia tolak peluru Astrid Kumbernuss, dan Juara Dunia lempar Cakram Franka Dietzsch. Kedatangan kedua pelatih Jerman itu, lanjut Tigor, merupakan bentuk keberlanjutkan kerjasama PASI dengan Persatuan Atletik Jerman (Deutsche Leichtathletik Verband /DLV) yang sudah terjalin sejak lama. “Selain mengirim pelatih dan atlet kita ke Jerman, kita juga minta DLV untuk mengirimkan pelatih terbaiknya, dan dipenuhi mereka (DLV),” ujar Tigor.  

Kehadiran dua pelatih Jerman di nomor lempar ini, menurut Tigor, terkait target PB PASI untuk kembali melahirkan atlet-atlet nomor lempar. Saat ini, di tingkat remaja dan yunior, Atletik Indonesia memiliki harapan cukup besar pada sejumlah atlet yang memiliki prestasi cukup baik. Diantaranya pemegang rekornas lontar martil remaja asal Riau Deny Yohan Putra, atlet M, Kresno Setyo Nugroho dan pemegang rekornas yunior putri lontar martil Tresna Puspita.

Menurut wakil ketua bidang pembinaan dan Prestasi PB PASI Moh. Nanang Kusuma, dua pelatih Jerman tersebut membawa wawasan baru bagi pelatih dan atlet nasional. Metode latihan yang diterapkannya sangat berbeda dengan yang biasa digunakan para pelatih nasional. Selama pelatihan, baik Michael maupun Dieter mempertunjukan metode latihan lempar yang benar secara detail.”Setiap gerakan dari semua bagian tubuh, menjadi penting untuk bisa menghasilkan hasil yang maksimal,” ujar Nanang.

Menurut ayah tiga anak yang pernah belajar di Jerman selama lebih dari dua tahun ini,  perbedaan mendasar lainnya dalam pelatihan oleh pelatih Jerman yaitu bagaimana pelatih Jerman memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan atletnya. Perkembangan setiap atlet baik fisik maupun teknik dimonitor betul, sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan latihannya. “Ilmu dan Teknologi di Jerman sudah menjadi hal yang biasa digunakan dalam menganalisa latihan, sementara kita belum sepenuhnya menerapkan itu dalam metode latihan,” tambah Anang.   

Hal itu juga diakui atlet yunior nasional Tresna Puspita. Pemegang rekor Nasional yunior lempar cakram ini  tadinya berharap bisa lebih lama lagi dilatih kedua pelatih Jerman tersebut. Ia merasakan banyak perbedaan dalam latihan yang diberikan pelatih Jerman dibanding pelatih nasional. "Mereka lebih banyak mengajarkan teknik dan lebih bervariasi,”ungkap atlet asal Kuningan, Jawa Barat itu.

 

HF

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…