Thursday, 26 February 2015 14:47

17 Atlet Pelatnas Alami Cedera

 

duduk dari kiri: Dr Ermita Ilyas, Declan Halpin, dan Ketum PB PASI Bob Hasan

Berdiri: Sekjen PB PASI Tigor Tanjung dan Siti Tazkiah (Mbak Ikki)

 

 

Cedera merupakan momok menakutkan bagi atlet dimana saja. Tak terkecuali bagi atlet-atlet di pemusatan latihan nasional (pelatnas) atletik persiapan Sea Games 2015 dan Asian Games 2018.  Hanya karena kesalahan kecil dalam latihan, cedera bisa mengubur impian mereka membela merah putih di ajang internasional.

Kasus terakhir menimpa pelari jarak jauh Triyaningsih jelang Asian Games 2014 di Incheon. Penyumbang dua medali emas SEA Games tersebut gagal diberangkatkan akibat cedera dan harus menjalani pemulihan cukup lama. Padahal, Triyaningsih salah satu atlet yang difavoritkan meraih medali di kompetisi multieven tingkat Asia tersebut. “Rata-rata atlet kita pernah mengalami cedera,” kata Sekretaris Jenderal PB PASI Tigor M Tanjung.

 

Saat ini,  setidaknya ada 17 atlet pelatnas yang mengalami cedera baik cedera ringan hingga kelainan fisik. Mereka diantaranya atlet nasional Zakaria Malik dan atlet muda Ulfa Silpiana.” Zakaria mengalami kaku otot,” ujar Dr dr Ermita Ilyas, ketua komite medis Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). 

Untuk mengantisipasi kondisi atlet cedera yang bisa berdampak pada persiapan menuju SEA Games 2015 di Singapura, Juni mendatang, PB PASI  menggelar Workshop Medical Treatment di stadion madya Senayan Jakarta, sabtu dan ahad pekan lalu. Acara yang dihadiri oleh para pelatih pelatnas, dokter dan fisioterapi nasional ini mendatangkan dua pelatih fisik asal Inggris dan Australia Declan Halpin dan Robert Ashton. “Kami belajar banyak dari mereka, transfer ilmu,” ujar Ermita.

Declan  memberikan materi mengenai cara pencegahan dan treatment atau rehabilitasi terhadap atlet. Dalam presentasi yang membuat para atlet dan pelatih pelatnas terbuka pemikirannya, Declan menguraikan tentang fisiologi tubuh manusia yang dikarunia otot yang banyak. “Kita punya sistem luar biasa yang bisa mengetahui posisi tubuh kita dalam mata terbuka dan mata tertutup. Dan ini tidak ada di makhluk hidup yang lain,” ujar Declan.

Dalam pemaparannya, Declan menyampaikan ada tiga topik yang perlu diperhatikan tim pelatnas untuk mencegah dan meningkatkan kualitas lari atlet. Pertama, tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Declan menjelaskan secara rinci, struktur dan potensi-potensi serat otot seorang pelari. Serat otot terdiri atas slow twitch dan fast twitch. Menurut Declan, fast twitch sangat berperan bagi pelari 100 meter.

Sementara slow twitch, dibutuhkan untuk pelari jarak menengah dan jauh. “Misalnya bagi pelari maraton, butuh slow twitch. Tapi ketika dia berbelok, dia juga butuh fast twitch ,” kata Declan. Dampaknya, serat otot ini rentan capai dibandingkan serat otot slow twitch. “Dengan latihan yang benar dia bisa mengaktifkan dan memperkuat otot yang kecil-kecil juga,” tambahnya.

Serat-serat otot tersebut dapat dilatih dengan pola-pola yang tepat agar memaksimalkan potensi serat otot. “Anda dapat menentukan jenis serat mana yang penting dilatih dengan maksimal,” katanya. Mantan fisioterapi klub Liga Inggris, Crystal Palace ini menghimbau, agar komunikasi antara atlet dan pelatih berlangsung baik “Jika ada atlet mengalami gangguan atau cedera di awal program, itu harus dikordinasikan dengan pelatih. Merasa sakit di salah satu tubuhnya, harus diberitahu. Kalau dipaksa, justru atlet akan cedera,” tegas Declan.

Declan juga menerangkan tentang pola pencegahan cedera. Menurutnya, cedera tak hanya didapat dari saat latihan, tapi dapat disebabkan juga oleh ketidakcocokan teknik pemanasan. Untuk itu, sebelum atlet mendapat cedera, maka harus dilakukan pencegahan semaksimal mungkin. Declan mempermudahnya dengan memberi pelatihan praktek latihan sederhana Ada tiga sesi latihan praktek yang diberikan. Dengan durasi sekitar 30 menit per sesi, Declan menunjukan cara berlatih dengan beberapa alat bantu seperti Thera Band, Swiss Ball, Sanctband, Kettler dan bola tenis.  

Menurut Dr dr Ermita Ilyas, apa yang disajikan Declan maupun Robert Ashton sangat membantu dan  dibutuhkan oleh atlet dan pelatih-pelatih nasional. Prinsipnya yaitu untuk meningkatkan performance atlet, penguatan otot diperlukan harus disesuaikan dengan kebutuhan sang atlet. Declan merupakan perpaduan pelatih Strengh and Conditioning dan Fisioteraphis. “Kita (sebenarnya) bisa mendeteksi cedera, tapi  tak ada yang bisa memberikan pelatihan Strength and Conditioning seperti Declan. Padahal kita sangat butuh orang khusus seperti Declan,” ujar Ermita.

Penguatan otot bisa dilakukan dengan mengefektifkan otot-otot kecil yang selama ini tidak diketahui para pelatih dan atlet. Penguatan otot kecil tersebut, bisa menambah performa hingga 10 %.. Otot-otot kecil yang selama ini tidak aktif, mampu diaktifkan dengan pola latihan yang diberikan Declan. “Banyak hal baru yang diberikan Declan, dan ini sangat bermanfaat bagi kita, khususnya para pelatih dan atlet agar terhindar dari cedera.

Beruntung, cederanya 17 atlet  pelatnas tak merisaukan kehadiran ketua bidang pembinaan dan prestasi PB PASI Paulus Lay. Menurut Paulus, program pelatnas tetap berjalan seperti biasa. Begitu pula dengan target yang hendak dicapai, masih tetap sesuai yang ditetapkan. “Apalagi, dengan pelatihan medical treatment, yang diberi saat ini, saya yakin para atlet dapat memulihkan diri lebih cepat dan sekaligus mencegah atlet lain mengalami cedera, sehingga siap pada waktunya,” ujar Paulus Lay.

 

HF

Last modified on Thursday, 26 February 2015 14:49
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…