Wednesday, 10 June 2015 16:04

Prestasi Indonesia Tanpa Naturalisasi

 

 

Triyaningsih Berfoto bersama Rini Budiarti dan Ketua Umum PB PASI Bob Hasan disaksikan presiden AAA Gen Dahlan

 

Triyaningsih tak bisa menutupi kebahagiaanya. Seusai masuk  finish di urutan pertama nomor 5000 m, gadis asal Salatiga, Jawa Tengah langsung sujud syukur di lintasan National Stadium, Singapura, selasa lalu. Ratu jalan raya Indonesia ini tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Bangkit dari sujudnya, ia langsung berlari menghampiri tribun terbawah  menemui keluarganya yang telah menunggunya. “Terimakasih Indonesia, terimakasih semua atas support dan doanya,” ujar Triyaningsih.   

Kemenangannya di Singapura kali ini memang terasa istimewa sejak dia meraih medali emas pertamanya di SEA Games Nakhon Ratchasima  di Thailand, delapan tahun lalu. Secara total ia sudah mengumpulkan sembilan medali emas baik di nomor 5000 meter, 10000 meter dan marathon dari empat SEA  Games yang diikutinya.

Kamis ini, Tri, demikian ia biasa disapa punya kesempatan menggenapkan raihan medali emasnya dari nomor 10.000 meter. “Semoga di nomor 10.000 meter, saya tak mengalami kesulitan berarti, apalagi saya sudah cukup lama nggak ikut kompetisi, jadi lebih fresh,” ujar Tri.

Sejak setahun lalu, Tri dibekap cedera pada telapak kakinya. Ia sempat bolak balik ke Singapura untuk menjalani proses pemulihan di bawah pantauan  pelatih fisik asal Inggris dan Australia Declan Halpin dan Robert Ashton. Proses pemulihan yang langsung di bawah supervisi ketua umum PB PASI Bob Hasan itu berlangsung cukup lama. Ia harus melewatkan kesempatan berlaga di Asian Games Korea Selatan, tahun lalu demi menjaga proses pemulihan cederanya.

Kini, Tri berhasil membuktikan bahwa dominasinya di nomor jarak jauh belum tergantikan. “Selain  bersyukur, karena proses pemulihan cederanya berhasil dengan baik, jangan lupa, kita perlu bersyukur bahwa ada dua atlet kita di lintasan, sehingga strategi team bisa kita terapkan dengan baik,” ujar Tigor Tanjung, sekjen PB PASI.

Dari sisi waktu, hasil yang diraih Triyaningsih menurut Tigor Tanjung, sebenarnya agak mengecewakan. Gadis 28 tahun ini hanya mencatat waktu 16;18.06 detik.  Padahal waktu terbaiknya, yang juga rekornas 15;54,32 detik.  “Dia (Triyaningsih) masih punya peluang mencatat waktu lebih baik ke depannya,” ujar Tigor Tanjung.

Hingga berita ini diturunkan, perolehan Medali emas yang diraih Triyaningsih telah menambah perbendaharaan medali emas Indonesia dari cabang Atletik menjadi dua emas tiga  perak dan dua perunggu. Satu medali emas sebelumnya diraih atlet putra Hendro di nomor 20 KM jalan cepat yang berlangsung hari sabtu lalu di East Coast Park, Singapura. Sementara tiga medali perak diraih sprinter asal Sumatera Barat Yaspi Boby dan pelari asal DKI jakarta Rini Budiarti serta pelari NTB ANdrian..

Sedangkan medali  perunggu diraih Iswandi di nomor yang sama dengan Yaspi Boby. “Seharusnya, kita bisa meraih medali emas dan perak nomor 100 meter, tapi kalah sama Filipina yang menggunakan atlet Naturalisasi,” ujar Bob Hasan, gundah. Tim Filipina menurunkan dua atlet naturalisasinya di nomor sprint 100 M putra dan putri yang berhasil meraih medali emas SEA Games kali ini. Sprinter berdarah Amerika Serikat Eric Shauwn Cray memenangi nomor 100 meter putra dengan catatan waktu 10,25 detik.

Sementara atlet putri kelahiran Amerika Serikat Kayla Anise Richardson memenangi nomor 100 meter putri dengan catatan waktu 11,76 detik. Menurut ketua umum PB PASI Bob Hasan, menularnya virus naturalisasi di cabang atletik oleh sejumlah negara ASEAN patut disesali. Atlet merupakan aset dan kebanggaan bangsa,  sehingga sudah seharusnya menjadi kebanggaan pula bila atlet yang menjadi juara merupakan hasil pembinaan negara itu sendiri. “Kalau naturalisasi, kebanggaannya dimana? Menjadi juara itu, penting, tapi lebih penting bisa menghasilkan juara,” tambah mantan menteri perindustrian dan perdagangan ini.

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…