Print this page
Thursday, 06 August 2015 23:48

PB PASI gelar tes Parameter atlet Pelatnas

 

"Tapping Test" salah satu metode tes parameter 

 

Jakarta,  6 Agustus 2015

 

Pemanfaatan Sports science dalam upaya meningkatkan prestasi atlet sudah menjadi sebuah kebutuhan saat ini. tak terkecuali di cabang olahraga atletik. Bahkan, atletik Indonesia berhasil membuktikan sebagai cabor yang  paling aktif dan maju dalam memanfaatkan sports science. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari pelaksanaan tes parameter yang dilakukan PB PASI, selasa dan rabu lalu (5/8-6/8) di Stadion Madya Senayan Jakarta.  

Lebih dari 50 atlet semua nomor yang berada di Pelatnas PB PASI baik di tingkat remaja, yunior dan senior mengikuti tes parameter yang digagas bidang pembinaan PB PASI. Dikoordinasi wakil ketua bidang Pembinaan Nanang H Kusuma, para atlet mengikuti tiga parameter tes yaitu foot taping, Cadance dan 3 hop kiri-kanan. “Kita ingin mengetahui kapasitas si atlet di nomor sprint, apakah dia berbakat atau tidak,” ujar Nanang.

Foot taping yaitu menghitung jumlah pijakan cepat seorang atlet yang dihitung selama 15 detik. Sementara Cadance yaitu stroke langkah atau frekuensi langkah per detik  dengan  menggunakan metode berlari sprint sepanjang 30 meter. Cadance, menurut Nanang, merupakan salah satu test parameter sederhana untuk mengetahui apakah Atlet tersebut mempunyai serabut otot putih atau otot merah. Serabut otot putih untuk sprinter dan serabut otot merah untuk Olahraga yg memerlukan dayatahan. “Agar setiap atlet yang kita latih sesuai dengan karakter ototnya. Jadi, kalau dia ternyata punya serabut otot merah, maka percuma kita latih sprint, karena dia tidak berbakat disana,”ujar Nanang.

Ide untuk menguji kembali para atlet yang dibina PB PASI ini muncul dilatarbelakangi keprihatinan ketua umum PB PASI Bob Hasan atas prestasi sprinter-sprinter nasional. Sejak kehadiran sprinter M Sarengat yang berhasil meraih medali emas nomor 100 M dan 110 M gawang di Asian Games 1962 sekaligus memecahkan rekor nasional 100 meter dengan 10,40 detik, jumlah sprinter putra Indonesia yang bisa berprestasi di tingkat Asia Tenggara atau bahkan di level Asia jumlahnya tak lebih dari 10 orang.

Purnomo yang berhasil memecahkan rekornas dengan catatan waktu 10,30 menjadi satu-satunya atlet Asia yang berhasil menembus babak semifinal saat mengikuti olimpiade Los Angeles 1984.   Prestasi Purnomo kemudian dilanjutkan di arena estafet 4 x 100 meter. Bersama pelari berdarah Papua asal Sulawesi Utara Christian Nenepath,   Johannes Kardiono, dan Ernawan Witarsa.

Christian Nenepath adalah pelari Indonesia pertama yang meraih medali emas bagi Indonesia pada SEA Games 1985 di Bangkok. Prestasi sprinter putra kemudian berlanjut di era  sprinter asal Sumatera Utara  Mardi Lestari yang berhasil memecahkan rekornas dengan kecepatan 10,20 detik di ajang  Asian Games.   

Rekornas Mardi lestari kemudian dipecahkan oleh Suryo Agung Wibowo yang berhasil mendominasi Asia tenggara dengan catatan waktu 10,17 detik. Regenerasi Suryo Agung kemudian berhenti di atlet asal Papua Franklin Ramses Burumi yang berhasil merebut dua medali emas SEA Games.  “Jadi, jumlahnya tak sampai sepuluh orang,” ujar Bob Hasan.

Pria yang telah puluhan tahun membina atletik ini juga menunjuk ‘prestasi’ yang sama di nomor putri. Sejak kemunculan Caroline Riewpassa di tahun 70an, hanya ada Henny Maspaitella, Emma Tahapary, Irene Truitje Yoseph (rekornas 11,56 detik) dan Serafi Anelies Unani  yang mampu bersaing di level Asia dalam nomor sprint. “Tes parameter ini membuktikan bahwa memang sprinter itu dilahirkan, bukan dihasilkan,” ujar Bob Hasan.         

Latest from PB PASI

We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…