Maria Londa saat Selebrasi merayakan saat menjuarai nomor lompat jangkit (foto : J.Handianto/PB PASI)

 

Menutup keseluruhan perlombaan Atletik Sea Games 2015 di Singapura. Tim Atletik Indonesia berhasil menambah satu medali emas dari nomor 3000 M Steeplechase Putri lewat atlet Rini Budiarti. Atlet asal DKI Jakarta ini , mampu masuk garis finish dengan catatan waktu 10 menit 20.40 detik mengguguli lawan terberatnya asal Vietnam Thi Phuong Nguyen yang mencatat waktu 10 menit 32, 61 detik dan Pelari Filipina Jessica Lynn Barnard dengan waktu 10 menit 36.90 detik.  

 

Perolehan medali emas dari Rini membuat tim Atletik Indonesia berhasil mengumpulkan tujuh medali emas  4 perak dan 4 perunggu.  Hasil ini melampaui target yang ditetapkan KONI yaitu sebanyak enam medali emas. “Kami tentu sangat bersyukur bisa melampaui target medali emas,”ujar Sekjen PB PASI Tigor Tanjung.

 

Dari keseluruhan perolehan medali emas SEA Games 2015 yang diperoleh Indonesia hingga hari ini, Tigor menambahkan, Atletik berhasil menyumbang lebih dari 20 % nya. Selain Rini Budiarti, emas Atletik Indonesia diperoleh dari atlet Triyaningsih yang meraih dua medali emas di nomor 5000 m dan 10000 meter, atlet Maria Natalia Londa yang juga meraih dua medali emas (Lompat jauh dan Lompat jangkit), Hendro (Jalan cepat) dan Agus Prayogo (10000M).

 

Sementara 4 medali perak diraih  Rini Budiarti dari nomor 5000 M, Yaspi Boby (100 m), Agus Prayogo (5000 M), dan Dedeh Erawati (100 M gawang).  Sementara medali perunggu diraih atlet Atjong Tio Purwanto (3000 m steeplechase), Iswandi (100 M), Andrian (400 m gawang), dan Tim Estafet putra (4 x 100M).    

 

Menurut Tigor Tanjung, sejumlah negara mengalami kemajuan dalam prestasi, diantaranya  tuan rumah Singapura, dan Vietnam. Begitu pula, Filipina yang secara keseluruhan berada di bawah Indonesia khususnya setelah diperkuat atlet indoamerika. “Indo Amerikanya Filipina ini yang tidak kita prediksi, karena pada SEA games sebelumnya, dia turun di nomor 400 m gawang, sekarang malah kuat di sprint 100 M,” ujar Tigor Tanjung. 

 

Dari hasil SEA Games ini, menurut Tigor, PB PASI akan melakukan evaluasi dan terus meningkatkan pengetahuan mengenai perkembangan atletik Indonesia sehingga bisa terus bersaing dan kembali mendominasi atletik di Asia tenggara dan bahkan di Asia. .

 

Kemajuan atlet Vietnam juga diakui atlet Agus Prayogo. Sersan satu TNI AD ini,  terpaksa merelakan medali emas 5000 meter setelah dipecundangi atlet  Vietnam Nguyen Van lai di putaran akhir lomba, pada hari selasa lalu. “Tapi, hari saya berhasil membalas ‘dendam’ dengan mengalahkannya di 10.000 m,” ujar Agus.

 

Sejak awal lomba Agus langsung memimpin dana secara konsisten berusaha meninggalkan lawan-lawannya di belakang dan masuk finish dnegan catatan waktu 28;41.56 detik. Dalam lomba yang mengambil lintasan di National Stadium sebanyak 25 putaran tersebut, Nguyen malah tercecer di posisi keenam.  Sementara posisi kedua dan ketiga nomor 10.000 meter dikuasai pelari Thailand Srisung Boonthung (30;05.22) dan pelari Myanmar San Naing (30;26.23).  “Tapi, catatan waktu saya kali ini, bukan  waktu yang terbaik saya, karena waktu terbaik saya 29;25.00,” ujar Agus. 

 

Catatan waktu terbaik justru diperoleh Maria Londa. Gadis asal Bali berusia 24 tahun ini malah berhasil memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri. Maria mencatat lompatan sejauh 6,70 meter atau lebih baik daripada rekornas sebelumnya yang dibuatnya di ajang Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan yaitu 6,55 M. “Tapi saya belum bisa memecahkan rekor SEA Games, 6,71 M,” ujar Maria Londa.

 

Menurut Maria, hasil yang didapatnya dipersembahkan bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan support kepadanya selama ini, dan kepada orang tua serta pelatihnya Ketut Pageh, yang

akan berulangtahun pada tanggal 29 Juni mendatang. Maria juga mengatakan pada saat memenangi lompat jangkit, ia sebenarnya dalam kondisi kesakitan akibat luka lama di kakinya kambuh lagi. Namun, rasa sakit itu ia tahan, dan sengaja tidak ditunjukan agar lawannya yang merupakan saingan terdekat baik di SEA Games kali ini, maupun di Asian Games Inchon, Korea Selatan, 2014 lalu Hue Hoa Tran.    

 

Hal sama dikatakan pelatih Maria Londa, Ketut Pageh. Menurut Ketut, untuk menghilangkan rasa sakit, Pageh terus memompa semangat dan motivasi Maria untuk berjuang habis-habisan. Hingga, Maria pun melupakan rasa sakitnya. “Dia (Maria) bahkan bilang, saat lompat udah gak ‘merasakan’ kakinya lagi, “ ujar Pageh.   

 

Pada SEA Games 2015, Atletik Indonesia mengirim 23 atlet terbaiknya ke ajang SEA Games 2015 Singapura.

 

HF

 

Total perolehan medali emas Cabang Atletik

                                                Emas Perak Perunggu

  1. Thailand                    17        13        9
  2. Vietnam                     11        15        8
  3. Indonesia                  7          4          4
  4. Filipina                       5          7          9
  5. Singapura                 3          3          3

 

 Ketua umum PB PASI Bob Hasan seusai menyerahkan medali kepada Maria Natalia Londa

 

Triyaningsih tak tertandingi. Gadis asal Salatiga ini, langsung memimpin lomba lari nomor 10000 M begitu pistol start dibunyikan. Bahkan, saat melewati 3000 Meter dia mampu melampaui atlet asal Vietnam yang menjadi saingannya. triyaningsih masuk garis finish dan berhasil mempertahankan medali emas SEA Games 10000 M yang pernah diraihnya di SEA Games sebelumnya. Total 10 medali emas sudah disumbangkan sang ratu jalanan Indonesia ini kepada tim Indonesia.

 

Keberhasilan mempertahankan medali emas juga dilakukan oleh Maria Natalia Londa. Juara Asian games nomor lompat jauh ini, berhasil mempertahanakn medali emas nomor lompat jangkitnya. "Syukur pada Tuhan, saya bisa juga mempertahankan medali emas meski rasa sakit muncul lagi di kaki saya," ujar Maria.

 

dengan perolehan dua medali emas, dari Triyaningsih dan Maria LOnda, tim atletik Indonesia berhasil memenuhi target 6 medali emas yang ditetapkan KONI. Sementara itu, pelari 100 meter gawang Dedeh Erawati, gagal mempertahankan medali emasnya. Dedeh hanya menduduki posisi kedua. Sementara itu, yuniornya Emilia Nova menduduki peringkat keempat.

AGus Prayogo saat memasuki Finish 10000 M (J.Handianto/PB PASI)

Harapan Indonesia untuk menambah perbendaharaan medali emas dari cabang Atletik akhirnya terpenuhi. Pada hari keenam penyelenggaraan SEA Games ke-28 Singapura 2015, tim Atletik Indonesia berhasil menyumbangkan dua medali emas dan satu perunggu.  Dua medali emas disumbangkan Pelari Agus Prayogo di nomor 10.000 meter dan Peloncat jauh Maria Natalia Londa. Sementara medali perunggu diraih sprinter asal Nusa Tenggara Barat Andrian di nomor 400 M gawang.

 

Dengan perolehan dua emas ini, maka cabang atletik Indonesia telah menyumbang  4 medali emas, 3 perak dan dua perunggu atau hampir melampaui target enam emas yang dibebankan Pemerintah. Atlet-atlet Indonesia masih berpeluang meraih medali emas dari atlet Triyaningsih di nomor lari jarak jauh 10000 meter  yang akan berlaga pada kamis besok (11/6/2015), Maria  Londa (Lompat jangkit), Rini Budiarti (3000 m steeplechase) dan Dedeh Erawati (100 M gawang) . Selain itu, para atlet estafet khususnya estafet 4 x 100 meter putra juga masih punya peluang besar  meraih medali emas. “Semoga saja (meraih emas), Tapi kita boleh mendahului ketentuan Tuhan,” kata Sekjen PB PASI Tigor Tanjung.

 

Ia melihat sejumlah negara mengalami kemajuan dalam prestasi, diantaranya  tuan rumah Singapura, dan Vietnam. Apalagi , Filipina yang diperkuat atlet hasil Naturalisasinya yang berhasil mengawinkan medali emas sprint 100 meter putra putri. “Indo Amerikanya Filipina ini yang tidak kita prediksi, karena pada SEA games sebelumnya, dia turun di nomor 400 m gawang, sekarang malah kuat di sprint 100 M,” ujar Tigor Tanjung. 

 

Hal itu diakui atlet Agus Prayogo. Sersan satu TNI AD ini,  terpaksa merelakan medali emas 5000 meter setelah dipecundangi atlet  Vietnam Nguyen Van lai di putaran akhir lomba, pada hari selasa lalu. “Tapi, hari saya berhasil membalas ‘dendam’ dengan mengalahkannya di 10.000 m,” ujar Agus.

 

Sejak awal lomba Agus langsung memimpin dana secara konsisten berusaha meninggalkan lawan-lawannya di belakang dan masuk finish dnegan catatan waktu 28;41.56 detik. Dalam lomba yang mengambil lintasan di National Stadium sebanyak 25 putaran tersebut, Nguyen malah tercecer di posisi keenam.  Sementara posisi kedua dan ketiga nomor 10.000 meter dikuasai pelari Thailand Srisung Boonthung (30;05.22) dan pelari Myanmar San Naing (30;26.23).  “Tapi, catatan waktu saya kali ini, bukan  waktu yang terbaik saya, karena waktu terbaik saya 29;25.00,” ujar Agus. 

 

 

 

Triyaningsih Berfoto bersama Rini Budiarti dan Ketua Umum PB PASI Bob Hasan disaksikan presiden AAA Gen Dahlan

 

Triyaningsih tak bisa menutupi kebahagiaanya. Seusai masuk  finish di urutan pertama nomor 5000 m, gadis asal Salatiga, Jawa Tengah langsung sujud syukur di lintasan National Stadium, Singapura, selasa lalu. Ratu jalan raya Indonesia ini tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Bangkit dari sujudnya, ia langsung berlari menghampiri tribun terbawah  menemui keluarganya yang telah menunggunya. “Terimakasih Indonesia, terimakasih semua atas support dan doanya,” ujar Triyaningsih.   

Kemenangannya di Singapura kali ini memang terasa istimewa sejak dia meraih medali emas pertamanya di SEA Games Nakhon Ratchasima  di Thailand, delapan tahun lalu. Secara total ia sudah mengumpulkan sembilan medali emas baik di nomor 5000 meter, 10000 meter dan marathon dari empat SEA  Games yang diikutinya.

Kamis ini, Tri, demikian ia biasa disapa punya kesempatan menggenapkan raihan medali emasnya dari nomor 10.000 meter. “Semoga di nomor 10.000 meter, saya tak mengalami kesulitan berarti, apalagi saya sudah cukup lama nggak ikut kompetisi, jadi lebih fresh,” ujar Tri.

Sejak setahun lalu, Tri dibekap cedera pada telapak kakinya. Ia sempat bolak balik ke Singapura untuk menjalani proses pemulihan di bawah pantauan  pelatih fisik asal Inggris dan Australia Declan Halpin dan Robert Ashton. Proses pemulihan yang langsung di bawah supervisi ketua umum PB PASI Bob Hasan itu berlangsung cukup lama. Ia harus melewatkan kesempatan berlaga di Asian Games Korea Selatan, tahun lalu demi menjaga proses pemulihan cederanya.

Kini, Tri berhasil membuktikan bahwa dominasinya di nomor jarak jauh belum tergantikan. “Selain  bersyukur, karena proses pemulihan cederanya berhasil dengan baik, jangan lupa, kita perlu bersyukur bahwa ada dua atlet kita di lintasan, sehingga strategi team bisa kita terapkan dengan baik,” ujar Tigor Tanjung, sekjen PB PASI.

Dari sisi waktu, hasil yang diraih Triyaningsih menurut Tigor Tanjung, sebenarnya agak mengecewakan. Gadis 28 tahun ini hanya mencatat waktu 16;18.06 detik.  Padahal waktu terbaiknya, yang juga rekornas 15;54,32 detik.  “Dia (Triyaningsih) masih punya peluang mencatat waktu lebih baik ke depannya,” ujar Tigor Tanjung.

Hingga berita ini diturunkan, perolehan Medali emas yang diraih Triyaningsih telah menambah perbendaharaan medali emas Indonesia dari cabang Atletik menjadi dua emas tiga  perak dan dua perunggu. Satu medali emas sebelumnya diraih atlet putra Hendro di nomor 20 KM jalan cepat yang berlangsung hari sabtu lalu di East Coast Park, Singapura. Sementara tiga medali perak diraih sprinter asal Sumatera Barat Yaspi Boby dan pelari asal DKI jakarta Rini Budiarti serta pelari NTB ANdrian..

Sedangkan medali  perunggu diraih Iswandi di nomor yang sama dengan Yaspi Boby. “Seharusnya, kita bisa meraih medali emas dan perak nomor 100 meter, tapi kalah sama Filipina yang menggunakan atlet Naturalisasi,” ujar Bob Hasan, gundah. Tim Filipina menurunkan dua atlet naturalisasinya di nomor sprint 100 M putra dan putri yang berhasil meraih medali emas SEA Games kali ini. Sprinter berdarah Amerika Serikat Eric Shauwn Cray memenangi nomor 100 meter putra dengan catatan waktu 10,25 detik.

Sementara atlet putri kelahiran Amerika Serikat Kayla Anise Richardson memenangi nomor 100 meter putri dengan catatan waktu 11,76 detik. Menurut ketua umum PB PASI Bob Hasan, menularnya virus naturalisasi di cabang atletik oleh sejumlah negara ASEAN patut disesali. Atlet merupakan aset dan kebanggaan bangsa,  sehingga sudah seharusnya menjadi kebanggaan pula bila atlet yang menjadi juara merupakan hasil pembinaan negara itu sendiri. “Kalau naturalisasi, kebanggaannya dimana? Menjadi juara itu, penting, tapi lebih penting bisa menghasilkan juara,” tambah mantan menteri perindustrian dan perdagangan ini.

 

Iswandi saat Jelang Masuk Finish SEA Games 2015 Singapura (Foto: J.Handianto/Dok PASI)

 

Peluang Atletik Indonesia meraih medali emas di nomor sprint 100 meter putra SEA Games 28 di SIngapura terbuka luas. Pasukan merah putih menempatkan dua sprinter terbaiknya di partai Final yang akan berlangsung sore nanti, di National Stadium, Singapura. Sprinter terbaik Indonesia saat ini Iswandi dan kompatriotnya Yaspi Boby berhasil lolos dalam putaran kualifikasi yang berlangsung pagi ini.

Iswandi yang berlari pada putaran pertama penyisihan, masuk garis finish di urutan ketiga dengan catatan waktu  10,43 detik dan memastikan langkahnya ke Final. Urutan pertama dan kedua di putaran pertama diraih pelari Filipina Eric Shauwn Cray dengan catatan waktu 10,28 detik dan pelari Thailand Jirapong Meenapra dengan waktu 10,42 detik.

Sementara Yaspi Boby yang turun di putaran kedua, justru berhasil masuk finish di urutan pertama dengan catatan waktu 10,48 detik. Dua pelari di belakang Yaspi yang ikut melangkah ke Final yaitu pelari Singapura Li Loong Calvin Kang dan pelari Malaysia Md Fakhri Ismail. Dua pelari lainnya yang ikut lolos ke Final sore nanti karena meraih waktu terbaik secara keseluruhan yaitu pelari Singapura Amiruddin Jamal dan pelari Vietnam Trong Hinh Le.

Menurut Manajer tim Atletik Indonesia Paulus Lay, saingan terberat kedua pelari Indonesia yaitu atlet Filipina, yang mencatat waktu lebih  baik ketimbang kedua pelari Indonesia. Namun, Paulus meyakini, segala sesuatu dapat saja berubah nanti sore. “Kita berdoa saja, semoga kedua pelari bisa lebih baik dan meraih medali emas,” kata Paulus.  

Sementara di nomor sprint 100 M putri, yang juga menjalani kualifikasi pada pagi ini, Atlet putri Indonesia Tri Setyo Utami berhasil menembus partai Final sore nanti. Tri yang turun di putaran pertama penyisihan masuk garis finish di urutan kelima. Namun atlet asal Jawa Timur kelahiran 8 September 1991 ini, memiliki catatan waktu terbaik yaitu 11,88 yang membuatnya melaju ke Final. Sementara atlet Indonesia lainnya Serafi Anelis Unani yang turun di putaran kedua kualifikasi gagal melaju ke final setelah masuk finish urutan keempat dengan catatan waktu 11,99 detik.

 

Pada SEA games kali ini, Atletik Indonesia mengirim 23 atlet terbaiknya ke ajang SEA Games 2015 Singapura. Selain Hendro, yang telah  meraih medali emas, peraih medali emas SEA games sebelumnya atlet lari jarak jauh Triyaningsih dan Agus Prayogo kembali berlaga di SEA Games. Triyaningsih dan Agus diharapkan dapat menyumbang medali dari dua nomor andalanya tersebut. Keduanya akan bertanding sore nanti yang dimulai pada pukul 16.00 waktu Singapura.

Hamdan Sayuti Jelang Garis Finish Marathon Putra SEA Games 2015 (J.Handianto/PB PASI)

 

Harapan Atletik Indonesia meraih medali emas di hari kedua perlombaan atletik di ajang SEA Games 2015 pupus sudah. tampil di nomor Marathon Putra, atlet nasional asal Sumatera Barat Hamdan Sayuti hanya bis amenempati posisi keempat.

Dalam perlombaan yang mengambil start dan Finish di Kallang Atletik Track, Singapura, Minggu pagi (7/6/2015) , Hamdan yang sempat tersisih di urutan lima pada 30 Km awal, berhasil menyalip pelari Filipina pemegang rekor Asean Eduardo Buenavista dan naik ke urutan keempat. Namun, kondisi hujan deras yang mengguyur jalanan tempat lokasi perlombaan ikut menghambat Hamdan untuk melaju lebih kencang.

Pelari tuan rumah atlet rui Yong Soh akhirnya masuk garis finish di urutan pertama dengan catatan waktu 2;34;56 detik. Disusul pelari Thailand, Srisung Boonthung (2;35;09) dan pelari Vietnam Nguyen Thanh Hoang (2;37;10). Hamdan masuk urutan keempat dengan catatan waktu 2;38;50 detik.

 

Ketua Kontingen Atletik Indonesia Paulus Lay, menyayangkan minimnya petunjuk lokasi lomba. Hal ini, menyebabkan Hamdan tak punya kesempatan untuk menjajal atau mengenal kondisi lomba. "Panitia kebanyakan jika ditanya, juga gak tahu rute Marathon kemana, kan susah kita untuk memberikan semangat atau motivasi," ujar Paaulus yang juga menjabat sebagai ketua bidang pembinaan dan prestasi PB PASI. 

HF


Atlet Hendro saat melewati atlet SIngapura dan Myanmar

Atlet Nasional Hendro membuka perbendaharaan medali emas Indonesia dari Atletik di SEA Games 2015 Singapora. Hendro yang kerap disapa oleh teman-temanya sebagai Endro Kim Lung meraih medali dari nomor 20 km Jalan cepat.  Dalam perlombaan yang berlangsung di East Coast Park, Singapura, Sabtu, 6 Juni 2015. Hendro berhasil menyisihkan pejalan cepat Vietnam Nguyen Than Ngung  yang awalnya diprediksi bakal unggul karena memiliki personal best time lebih baik dari Hendro. Nguyen memiliki waktu terbaik 1;26;53 sebelumnya. Sementara Hendro 1;27;57 detik.

Namun, di lintasan East Coast Park yang terletak di tepi pantai tersebut, Hendro berhasil membuktikan sebaliknya. Hendro masuk finish pertama dengan catatan waktu 1; 34;38. Sementara, Nguyen Than Ngung malah tersisih cukup jauh dan berada di posisi keempat dengan waktu 1;52;12 atau berbeda 17 menit 49 detik. Posisi kedua ditempati kompatriot Nguyen Than Ngung, Vo Xuan Vinh  dengan catatan waktu  1;38;38. Medali perunggu diraih atlet jalan cepat malaysia, Harun M dengan catatan waktu 1;40;57 detik.

Menurut Manajer Tim atletik Indonesia Paulus Lay, keberhasilan Hendro sebenarnya sudah diprediksi oleh PB PASI. Paulus yang juga menjabat sebagai ketua bidang pembinaan dan prestasi ini mengatakan, sebagian besar lawan Hendro di SEA Games kali ini, memiliki kemampuan di bawah Hendro. “Hanya saja, yang tadi sempat dikhawatirkan kondisi panas, karena lokasinya persis di tepi pantai,” ujar Paulus.

Namun, berkat usaha keras Hendro akhirnya berhasil masuk finish di urutan pertama dan meninggalkan cukup jauh lawan-lawannya. Namun, catatan waktu Hendro belum melampaui rekornas yang pernah dibuat Hendro sendiri pada kejuaraan di Nanjing, China pada 4 Mei 2014 dengan catatan waktu 1;29 menit, 24 detik.

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung menyatakan kegembiraannya atas keberhasilan Hendro. Tigor, berharap, atlet-atlet atletik lain akan ikut menyumbang medali emas kembali bagi Indonesia. “Semoga, atlet-atlet kembali mempersembahkan medali emas,” ujar Tigor Tanjung.  

Besok pagi, pelari asal Sumatera Barat Hamdan Sayuti akan bertanding di nomor Marathon putra dan diharapkan dapat menambah perbendaharaan medali bagi Indonesia. semoga.

Atlet-atlet Jarak jauh andalan Indonesia sehabis latihan di Taman Rafless, Singapura

Pembukaan SEA Games ke-28 di Singapura berlangsung meriah. Diiringi pesta kembang api dan permainan tata lampu yang indah, pesta olahraga negara-negara ASEAN resmi dibuka oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. Sebelas negara Asean ikut serta. Hadir pada acara pembukaan tersebut sejumlah pemimpin negara ASEAN seperti Raja Brunei Darussalam Sultan Hasanal Bolkiah, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri yang ditemani putrinya Menteri Koordinator bidang pembangunan Manusia  Indonesia Puan Maharani dan sejumlah pejabat negara Asean lainnya.  

 

Sejumlah perlombaan sebenarnya sudah memulai babak kualifikasi sejak akhir mei lalu. Sebut saja, sepak bola dan renang indah. Sementara, Atlet-atlet Atletik baru akan berlaga pada hari sabtu, tanggal 6 Juni 2015.  Tak kurang dari 346 atlet yang terdiri dari 191 atlet putra dan 151 atlet putri ikut serta dalam event kali ini.   Tim atletik merah putih yang dikomandani ketua bidang pembinaan dan prestasi Paulus Lay, mengirim 23 atlet terbaik. Atlet jalan cepat Indonesia Hendro  akan menjalani laga perdana di nomor 20 km jalan cepat, pada pukul 16.00 sore waktu singapura (atau pukul 15.00 waktu Jakarta).

 

Sementara Pelari marathon Hamdan Sayuti akan berlaga di hari kedua pada hari minggu pukul 06 pagi waktu singapura. Menurut, Hendro, persiapan fisik dan mental terus dilakukan untuk mencapai hasil maksimal yang diharapkannya. “Saya kana berusaha mempersembahkan terbaik,” kata Hendro ketika ditemui di sela-sela latihan di are ataman rafles, di depan hotel Swissotel yang menjadi lokasi penginapan hampir semua kontingen atlet.  

 

Bob Hasan Menerima Penghargaan dari Presiden AAA Dahlan (Dok PB PASI/Tigor Tanjung)

 

Dedikasi ketua Umum PB PASI yang juga Honorary President AAA Bob Hasan terhadap dunia atletik tak bisa diragukan lagi. Berbagai penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri telah diberikan kepada pria 84 tahun yang telah mengabdikan  hampir seumur hidupnya bagi perkembangan dunia atletik nasional maupun internasional ini. 

Pada hari ini, 2 Juni 2015, Menteri Perindustrian dan perdagangan RI di masa presiden Soeharto ini, kembali diberi penghargaan oleh Asosiasi Atletik Asia  (AAA). Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Presiden AAA Dahlan Al-Hamad di sela-sela pelaksanaan Kongres AAA dan Kejuaraan Atletik Asia di Wuhan, China tersebut, diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Bob Hasan yg dinilai telah berhasil menggalang kesatuan dan kekuatan atletik Asia sehingga diperhitungkan dalam kancah atletik global. 

CEO DLV Frank Hendel (tiga dari Kiri) dan Ketua Umum PB PASI Bob Hasan (Dok PB PASI)

 

Upaya untuk mendorong dilakukannya pembaruan dalam tubuh Federasi Atletik Internasional (IAAF) terus digulirkan Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) menjelang pelaksanaan kongres IAAF, di Beijing, China, Agustus 2015 mendatang. Tak terkecuali saat Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia Bob Hasan bertemu dengan kompatriotnya dari Jerman CEO DLV Frank Hensel di markas DLV di Darmstadt, Jerman, Selasa, 19 Mei 2015 lalu.   

 DLV merupakan organisasi yang memayungi olahraga Atletik di Jerman. Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban itu, Bob Hasan ditemani Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung. Sementara Frank Hensel, ditemani Direktur keuangan DLV Norbert Brenner dan David Deister.

 Menurut Tigor Tanjung, DLV sepakat atas ide PB PASI untuk melakukan perubahan dalam sistem pelayanan IAAF. Sistem pelayanan IAAF selama ini berlaku dianggap masih kurang mengakomodir kepentingan negara-negara Asia.  Baik PB PASI maupun DLV, lanjut Tigor Tanjung, juga menyepakati untuk saling mendukung terhadap pencalonan kandidat masing masing dalam pemilihan pengurus IAAF.

 Rencananya, PB PASI yang didukung sejumlah negara Asia, akan menggulirkan usulan pencalonan Sekjen PB PASI Tigor Tanjung sebagai council Member IAAF. Sementara DLV bakal mencalonkan Clemens Prokop sebagai presiden IAAF. “Melalui kerjasama saling mendukung dalam pemungutan suara, diharapkan keduanya dapat terpilih,” ujar Tigor Tanjung.

 Kerjasama lain yang disepakati dalam pertemuan tersebut, menurut Tigor Tanjung, yaitu menyangkut upaya pengiriman kembali beberapa atlet yunior dan senior Indonesia untuk berlatih di Jerman seperti yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Selama ini, DLV telah membantu memfasilitasi pengiriman pelatih-pelatih nasional maupun daerah untuk berlatih di Jerman.

 “PB PASI mengharapkan DLV bisa memfasilitasi pelatihan khususnya bagi atlet nomor lempar. Tapi, tidak menutup kemungkinan atlet di nomor lain,” tegas  Tigor Tanjung. PB PASI sendiri secara resmi telah mengundang pelatih Jerman untuk memberikan coaching Clinic selama 1 hingga 2 minggu. Termasuk, membawa atlet terbaiknya, sebagaimana dilakukan di awal tahun 2015 lalu. Saat itu PB PASI mengundang dua pelatih nasional Jerman Michael Deyhle dan Dieter Kollark untuk memberikan coaching clinic terhadap pelatih dan atlet nomor lempar selama dua minggu.

 Dalam kesempatan pertemuan itu, DLV juga memberikan buku-buku panduan latihan atletik bagi anak-anak kepada PB PASI yang diterima langsung Ketua Umum PB PASI Bob Hasan.   

Page 4 of 12
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…