stadion Si Jalak Harupat

 

 

Setelah sempat tertunda akibat penundaan jadwal Liga Super Indonesia 2015 (LSI) Februari 205 lalu. Perlombaan lari sprint perdana di sela-sela jeda waktu pertandingan sepakbola LSI 2015, bakal segera terwujud. Kepastian tersebut didapat setelah Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) bertemu dengan juara ISL 2014 Persib Bandung dan pihak dinas Pemuda olahraga dan pariwisata (dispopar) kabupaten Bandung, di Soreang, kamis, 2 April 2015.

Dalam pertemuan yang dihadiri Direktur Persib Risha Widjaya, Ketua Panitia Pelaksana pertandingan Persib Budhi Brahmana,  kepala Dispopar H Ahmad Djohara dan ketua Tim lomba Sprint ISL PB PASI Hendri Firzani disepakati untuk mengadakan hanya dua nomor lomba sprint pada laga “kick off’ ISL 2015 di stadion Si Jalak Harupat, Soreang Bandung.  Dua nomor tersebut yaitu lomba lari 100 meter dan 200 meter putra putri. Rencananya untuk perlombaan perdana ini, PB PASI akan menurunkan atlet-atlet remaja asal provinsi Jawa barat sebagai bagian dari uji coba menuju PON 2016 di Bandung.

Penyelenggaraan lomba sprint di jeda waktu istirahat pada pertandingan sepakbola ISL ini merupakan pelaksanaan dari kesepakatan antara PB PASI dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Kesepakatan tersebut, dituangkan dalam Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung dan Sekjen PSSI Joko Driyono yang disaksikan oleh Ketua Umum PB PASI Mohamad Bob Hasan dan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin, awal Februari 2015 lalu.  

Dalam nota kesepahaman tersebut, disepakati bahwa PSSI akan memfasilitasi PB PASI menyelenggarakan perlombaan atletik untuk beberapa nomor perlombaan sprint yaitu 60 M, 100 m, 200 M dan estafet 4 x 100 m serta 4 x 400 Meter di ajang ISL 2015. Penyelenggaraan lomba akan dilakukan di sejumlah stadion sepakbola penyelenggara ISL 2015 yang memiliki track atletik sesuai standar. “Kerjasama ini merupakan sebuah langkah maju, untuk mengembangkan minat anak muda pada olahraga atletik khususnya di kalangan pecinta sepakbola nasional,” ujar Bob Hasan, ketua PB PASI beberapa waktu lalu.

Sebagai timbal balik kerjasama ini, pihak PB PASI juga akan menyediakan tenaga kepelatihan /instruktur bidang atletik bagi pengembangan dan pelatihan atlet-atlet maupun pelatih Sepakbola.

Wita Witarsa dan Rini Budiarti bersama Maria Londa, Dedeh Erawati dan Pageh saat tiba di tanah air dari Asian Games 2014 (Dok PB PASI)

 

Jakarta, 26 Maret 2015, Tim Atletik Merah Putih kembali diberangkatkan ke ajang internasional. Kali ini, Atlet Senior Rini Budiarti (5000m) dari DKI Jakarta dan Hamdan Sayuti (10000m) dari Sumatera Barat yang ditemani pelatih Witarsa Wita akan berlaga di IAAF World Cross Country Championships 2015 di kota Guiyang, China pada 28 Maret 2015. Kedua atlet yang kerap menjadi jawara di ajang lomba lari jarak jauh ini, akan bersaing dengan 400 atlet dari 51 negara di arena lomba yang berada di kawasan pegunungan, 30 km dari pusat kota Guiyang.

 

Satu persatu anggota Dewan Pengurus Asosiasi Atletik Asia (AAA) hari ini berangsur angsur kembali ke negara masing-masing dengan membawa kesan mendalam. President AAA Jenderal Dahlan Al Hamad, siang tadi kembali ke Qatar. Dahlan yang juga anggota IOC menyatakan kepuasannya atas penyelenggaraan  Council Meeting ke-80 AAA yang berlangsung di Hotel Fairmont, kamis kemarin (12/3). “Terimakasih kepada PB PASI, Pak Hasan dan Pak Tigor, atas council meeting yang berjalan lancar,” ujar Dahlan.

Council meeting ke-80 AAA yang berlangsung sehari penuh, berjalan sukses. Pertemuan yang  dihadiri oleh seluruh anggota dewan pengurus AAA ini, menghasilkan sejumlah kesepakatan yang akan dibawa pada kongres AAA, juni mendatang di Wuhan, China. Menurut Sekjen PB PASI yang juga vice president AAA Tigor Tanjung, pertemuan ini, sangat penting bagi AAA karena menjadi ajang konsolidasi bagi AAA menuju pemilihan Presiden IAAF, pada Kongres IAAF Agustus mendatang.

Seperti diketahui masa tugas Presiden IAAF Lamine Diack, akan berakhir Juni 2015 mendatang.  Lamine yang asal Senegal telah menjabat sebagai Presiden induk organisasi cabang olahraga atletik dunia yang beranggotakan 213 negara ini sejak 1999.

Meski tak menyodorkan nama calon pengganti asal Asia, anggota AAA kemungkinan akan menentukan pilihannya pada dua kandidat terkuat Presiden IAAF yang saat ini sama sama menjabat sebagai wakil Presiden IAAF yaitu pemegang rekor dunia lompat galah asal Ukraina Sergey Bubka dan ketua olympic Committe Olimpiade London 2012 yang juga mantan pelari jarak menengah Inggris Sebastian Coe.

Kedua kandidat President IAAF itu ikut hadir dalam pertemuan Dewan Pengurus AAA di Jakarta kali ini. Menurut Tigor, kedatangan keduanya untuk meminta restu dari ketua umum PB PASI Bob Hasan. Bagaimanapun, lanjut Tigor, ketokohan Bob Hasan sudah diakui semua pihak. “Pak Bob Hasan, bagaimanapun sangat dihormati baik di level Asia maupun dunia,” ujar Tigor Tanjung.

Meski  membuat kebulatan tekad mengenai calon presiden IAAF, Council Meeting AAA tidak memutuskan kepada siapa suara negara-negara Asia akan diberikan. Semua diserahkan kepada anggota AAA dalam pemilihan nanti.  

Selain membicarakan kandidat presiden IAAF dan persiapan konggres AAA, council meeting juga membicarakan persiapan penyelenggaraan kejuaraan Dunia Atletik Yunior pertama di Doha, Qatar. Dan sejumlah agenda penting lainnya.  “Tadi ada juga usulan perubahan jadwal kompetisi, mengingat sering kali ada tahun dimana jadwal kompetisi sangat padat, tapi ada juga yang kosong,”tambah Tigor.   

Ia mengambil contoh jadwal kompetisi kejuaraan Atletik Asia, yang jadwalnya tak begitu jauh dari jadwal Asian Games ke-18, Jakarta. Menurutnya, jika berbentrokan seperti itu, maka dikhawatirkan, banyak negara memilih untuk mengirim atlet utamanya ke ajang Asian Games yang multievent ketimbang ajang kejuaraan atletik Asia.

Satu hal penting lain, yang berhasil disepakati oleh AAA yaitu menyangkut dorongan agar AAA mendorong organisasi IAAF memberikan perhatian besar pada Asia. Betapapun, menurut Tigor, kebanyakan sponsor IAAF berasal dari perusahaan-perusahaan Asia. Ia mencontohkan seperti Sinopec, dan TDK, Samsung, menjadi penyumbang terbesar pemasukan IAAF. Oleh sebab itu, sudah selayaknya Asia mendapat porsi lebih besar. Sergey dan Sebastian Coe dalam pertemuan dengan Bob Hasan maupun saat presentasi di depan councill Meeting sempat berjanji akan mengutamakan Asia jika terpilih sebagai President.

Setidaknya, menurut Tigor, markas IAAF bisa dipindahkan ke asia, atau ada cabangnya di Asia. Pertemuan Dewan Pengurus AAA di Jakarta dihadiri oleh seluruh pimpinan AAA dari berbagai negara. Diantaranya, terdapat senior Wakil Presiden AAA asal China Du Zhaocai, Mayjen Surapong Ariyamongkol (Thailand), Alexey Kondrat (Kazhakstan) dan Katsuyuki Tanaka (Jepang). Selain membicarakan masalah pergantian President IAAF, pertemuan juga akan membahas sejumlah agenda penting Atletik Asia sepanjang 2015.

 

duduk dari kiri: Dr Ermita Ilyas, Declan Halpin, dan Ketum PB PASI Bob Hasan

Berdiri: Sekjen PB PASI Tigor Tanjung dan Siti Tazkiah (Mbak Ikki)

 

 

Cedera merupakan momok menakutkan bagi atlet dimana saja. Tak terkecuali bagi atlet-atlet di pemusatan latihan nasional (pelatnas) atletik persiapan Sea Games 2015 dan Asian Games 2018.  Hanya karena kesalahan kecil dalam latihan, cedera bisa mengubur impian mereka membela merah putih di ajang internasional.

Kasus terakhir menimpa pelari jarak jauh Triyaningsih jelang Asian Games 2014 di Incheon. Penyumbang dua medali emas SEA Games tersebut gagal diberangkatkan akibat cedera dan harus menjalani pemulihan cukup lama. Padahal, Triyaningsih salah satu atlet yang difavoritkan meraih medali di kompetisi multieven tingkat Asia tersebut. “Rata-rata atlet kita pernah mengalami cedera,” kata Sekretaris Jenderal PB PASI Tigor M Tanjung.

 

Saat ini,  setidaknya ada 17 atlet pelatnas yang mengalami cedera baik cedera ringan hingga kelainan fisik. Mereka diantaranya atlet nasional Zakaria Malik dan atlet muda Ulfa Silpiana.” Zakaria mengalami kaku otot,” ujar Dr dr Ermita Ilyas, ketua komite medis Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). 

Untuk mengantisipasi kondisi atlet cedera yang bisa berdampak pada persiapan menuju SEA Games 2015 di Singapura, Juni mendatang, PB PASI  menggelar Workshop Medical Treatment di stadion madya Senayan Jakarta, sabtu dan ahad pekan lalu. Acara yang dihadiri oleh para pelatih pelatnas, dokter dan fisioterapi nasional ini mendatangkan dua pelatih fisik asal Inggris dan Australia Declan Halpin dan Robert Ashton. “Kami belajar banyak dari mereka, transfer ilmu,” ujar Ermita.

Declan  memberikan materi mengenai cara pencegahan dan treatment atau rehabilitasi terhadap atlet. Dalam presentasi yang membuat para atlet dan pelatih pelatnas terbuka pemikirannya, Declan menguraikan tentang fisiologi tubuh manusia yang dikarunia otot yang banyak. “Kita punya sistem luar biasa yang bisa mengetahui posisi tubuh kita dalam mata terbuka dan mata tertutup. Dan ini tidak ada di makhluk hidup yang lain,” ujar Declan.

Dalam pemaparannya, Declan menyampaikan ada tiga topik yang perlu diperhatikan tim pelatnas untuk mencegah dan meningkatkan kualitas lari atlet. Pertama, tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Declan menjelaskan secara rinci, struktur dan potensi-potensi serat otot seorang pelari. Serat otot terdiri atas slow twitch dan fast twitch. Menurut Declan, fast twitch sangat berperan bagi pelari 100 meter.

Sementara slow twitch, dibutuhkan untuk pelari jarak menengah dan jauh. “Misalnya bagi pelari maraton, butuh slow twitch. Tapi ketika dia berbelok, dia juga butuh fast twitch ,” kata Declan. Dampaknya, serat otot ini rentan capai dibandingkan serat otot slow twitch. “Dengan latihan yang benar dia bisa mengaktifkan dan memperkuat otot yang kecil-kecil juga,” tambahnya.

Serat-serat otot tersebut dapat dilatih dengan pola-pola yang tepat agar memaksimalkan potensi serat otot. “Anda dapat menentukan jenis serat mana yang penting dilatih dengan maksimal,” katanya. Mantan fisioterapi klub Liga Inggris, Crystal Palace ini menghimbau, agar komunikasi antara atlet dan pelatih berlangsung baik “Jika ada atlet mengalami gangguan atau cedera di awal program, itu harus dikordinasikan dengan pelatih. Merasa sakit di salah satu tubuhnya, harus diberitahu. Kalau dipaksa, justru atlet akan cedera,” tegas Declan.

Declan juga menerangkan tentang pola pencegahan cedera. Menurutnya, cedera tak hanya didapat dari saat latihan, tapi dapat disebabkan juga oleh ketidakcocokan teknik pemanasan. Untuk itu, sebelum atlet mendapat cedera, maka harus dilakukan pencegahan semaksimal mungkin. Declan mempermudahnya dengan memberi pelatihan praktek latihan sederhana Ada tiga sesi latihan praktek yang diberikan. Dengan durasi sekitar 30 menit per sesi, Declan menunjukan cara berlatih dengan beberapa alat bantu seperti Thera Band, Swiss Ball, Sanctband, Kettler dan bola tenis.  

Menurut Dr dr Ermita Ilyas, apa yang disajikan Declan maupun Robert Ashton sangat membantu dan  dibutuhkan oleh atlet dan pelatih-pelatih nasional. Prinsipnya yaitu untuk meningkatkan performance atlet, penguatan otot diperlukan harus disesuaikan dengan kebutuhan sang atlet. Declan merupakan perpaduan pelatih Strengh and Conditioning dan Fisioteraphis. “Kita (sebenarnya) bisa mendeteksi cedera, tapi  tak ada yang bisa memberikan pelatihan Strength and Conditioning seperti Declan. Padahal kita sangat butuh orang khusus seperti Declan,” ujar Ermita.

Penguatan otot bisa dilakukan dengan mengefektifkan otot-otot kecil yang selama ini tidak diketahui para pelatih dan atlet. Penguatan otot kecil tersebut, bisa menambah performa hingga 10 %.. Otot-otot kecil yang selama ini tidak aktif, mampu diaktifkan dengan pola latihan yang diberikan Declan. “Banyak hal baru yang diberikan Declan, dan ini sangat bermanfaat bagi kita, khususnya para pelatih dan atlet agar terhindar dari cedera.

Beruntung, cederanya 17 atlet  pelatnas tak merisaukan kehadiran ketua bidang pembinaan dan prestasi PB PASI Paulus Lay. Menurut Paulus, program pelatnas tetap berjalan seperti biasa. Begitu pula dengan target yang hendak dicapai, masih tetap sesuai yang ditetapkan. “Apalagi, dengan pelatihan medical treatment, yang diberi saat ini, saya yakin para atlet dapat memulihkan diri lebih cepat dan sekaligus mencegah atlet lain mengalami cedera, sehingga siap pada waktunya,” ujar Paulus Lay.

 

HF

Bob Hasan menyaksikan penandatanganan MOU antara Joko Driyono dan Tigor Tanjung

 

Bertempat di Stadion Madya, Senayan Jakarta Pusat, Jumat (13/2) PSSI dan PASI akhirnya menandatangani Nota Kesepahaman tentang  Penyelenggaraan Perlombaan Sprint di sela-sela waktu penyelenggaraan liga sepakbola Indonesia Super League (ISL) 2015. Nota kesepahaman tersebut ditandatangani Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung dan Sekjen PSSI Joko Driyono yang disaksikan langsung Ketua Umum PB PASI Mohamad Bob Hasan.

Joko Driyono mengatakan, inisiatif kerjasama ini bermula dari bincang-bincang ringan di kediaman Bob Hasan sekitar dua bulan lalu.  "Begitu nyambung, langsung kita wacanakan dan atur," ujarnya.

Tujuannya, kata Joko untuk mengkampanyekan atletik agar semakin dikenal dan tumbuh atlet-atlet baru. Selain itu PSSI selalu terbuka untuk menjalin kerjasama dengan cabang olahraga lain tak terkecuali atletik. "Dan saya rasa baik PSSI dan PASI sama-sama dapat keuntungan dari kerjasama ini. Selain itu ada edukasi yang bisa diambil," ungkapnya.

Lanjut Joko, ISL sendiri yang akan bergulir 21 Februari 2015, akan mempertandingkan 306 pertandingan dengan memakai 67 stadion. "Jadi nanti teknisnya kita akan bicarakan lebih lanjut, apakah lomba atletik akan ada di setiap pertandingan, atau bagaimana," katanya.

Sementara itu, Sekjen PB PASI Tigor M Tanjung menjelaskan, dalam nota kesepahaman tersebut, disepakati bahwa PSSI akan memfasilitasi PASI menyelenggarakan perlombaan atletik untuk beberapa nomor perlombaan yakni, sprint 60 meter, 100 meter, 1500 meter dan estafet 4 x 100 meter serta 4 x 400 meter.

"Porlombaan nanti akan dilaksanakan saat turun minum pertandingan ISL. Kan ada jeda 15 menit, jadi kita upayakan memakai waktu 10 menit bersih, agar tidak mengganggu jalannya pertandingan sepakbola," jelasnya.

Sementara itu, Bob Hasan mengungkapkan bahwa kerjasama ini merupakan langkah maju untuk mengembangkan minat pecinta sepakbola yang cukup besar pada cabang olahraga atletik. Dimana cabang olahraga atletik merupakan induk dari semua olahraga. "Ini agar PASI juga maju. Makanya salah satunya cara kita mencoba menggandeng di ajang ISL. Kan dana PASI tidak sebesar dana PSSI," ungkapnya.

Selain itu, Bob Hasan mengatakan ide ini mengadopsi perlombaan atletik di Jamaika yang juga memanfaatkan kompetisi sepakbola. "Di Jamaika itu kayak begini. Makanya kita coba mencontohnya. Dan saya rasa ini baik tidak hanya buat PASI tapi juga PSSI," katanya.

Lapangan Atletik Oentoeng Poedjadi FIK UNESA, Jawa Timur kembali terpilih  menjadi tuan rumah penyelenggaraan kejuaraan daerah Atletik Antar klub Jawa Timur (Jatim Open) 2015. Ajang rutin tahunan yang diselenggarakan Pengurus Propinsi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Jatim ini akan berlangsung dari tanggal 19 Maret 2015 hingga 21 Maret 2015. Dalam surat resmi yang ditujukan kepada seluruh Pengda-Pengda PASI, Klub-klub atletik dan PPLM se Indonesia, sekretaris umum Pengprop PASI Jatim jongki Sumarhadi menyebutkan bahwa Kejuaraan yang akan mempertandingkan 22 nomor pertandingan putra dan putri ini, merupakan salah satu ajang kualifikasi untuk Pekan Olahraga Nasional XIX 2016. nomor-nomor yang dipertandingkan yaitu sebagai berikut:

  1. 60 M (khusus Jatim),
  2. 100 M,
  3. 200 M,
  4. 400M,
  5. 800M,
  6. 1500M,
  7. 3000M stc,
  8. 5000,
  9. 10,000,
  10. 110 M Gw/100m Gw,
  11. 400 m Gw,
  12. 10000M jalan cepat,
  13. lompat jauh,
  14. lompat jangkit,
  15. lompat tinggi,
  16. lompat galah,
  17. tolak peluru,
  18. lempar lembing
  19. lempar cakram
  20. lontar martil
  21. estafet 4 x 100m
  22. estafet 4 x 400m

Untuk bisa ikut dalam ajang Jatim Open, pendaftaran paling lambat tanggal 9 maret 2015, dan dikirim langsung melalui suirat ke Sekretariat pengprov PASI Jatim di jl Jemur Andayani no 27 Surabaya 60237 atau Fax: (031) 8438405 dan email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

Meski singkat kedatangan Michael Deyhle dan Dieter Kollark terasa sangat bermakna bagi banyak pelatih dan atlet yang beruntung ikut dalam Coaching Clinic dan Taining Camp yang digelar PB PASI. Wawasan dan metode baru latihan diberikan oleh kedua pelatih yang telah menelurkan banyak atlet kelas dunia ini. Michael pun mengapresiasi keinginan besar para pelatih dan atlet untuk belajar.”Motivasi dan semangat mereka (pelatih dan atlet) luar biasa,” ujar Michael.    

Pelatih kelahiran Jerman, 6 September 1951 ini pun banyak memberi masukan bagi perkembangan atletik Indonesia.  Menurutnya, untuk saat ini, Indonesia belum bisa melahirkan atlet kelas dunia. Butuh waktu cukup lama untuk mewujudkan hal itu. Namun, ia percaya dengan potensi penduduk yang sekian banyak dan  dilakukan metode pelatihan dengan baik, Indonesia suatu saat memiliki atlet kelas dunia. stan. Untuk mengetahui lebih jauh, pendapatnya tentang atletik Indonesia  wartawan GATRA mewawancarai Michael Deyhle seusai penutupan Coaching Clinic, Jumat pekan lalu,  berikut petikannya: 

 

Apa yang anda lihat dan pelajari dari Atletik Indonesia?

Motivasi dan kemauan pelatih dan atlet sungguh sangat luar biasa. Begitu pula, Lingkungan dan sarana prasarana latihan sangat mendukung. Hanya saja memang terkait pemahaman pengetahuan atletik, (pelatih dan atlet) Indonesia belum semaju di Eropa. Perlu harus terus ditingkatkan pemahaman terkait atletik.

Apakah itu menjadi kendala, saat anda memberikan pelatihan?

Saya sengaja tidak menyampaikan hal yang terlalu tinggi. Saya memilahnya, dan disesuaikan dengan kebutuhan para pelatih dan atlet Indonesia. Memang (dari pelatihan) ini tidak bisa langsung menjadi juara dunia, tapi menaikan prestasi sedikit demi sedikit, saya yakin bisa. Kami punya banyak data, tapi tak semua bisa kami bagikan karena keterbatasan waktu.

Melihat kondisi atletik Indonesia seperti ini,  apa yang dibutuhkan untuk memperbaikinya?

Pertama, yang perlu dikembangkan yaitu sistemnya dulu dalam banyak hal, misalnya identifikasi bakat atau pembinaan atlet yunior. Indonesia kan punya banyak penduduk, kita harus bisa mendapatkan bakat-bakat muda.  Indonesia misalnya harus punya minimal 100 atlet yunior, karena nanti saat masuk ke senior, jumlahnya makin sedikit. Jadi, kita harus memperbanyak proses pencarian atlet yunior.

Kedua, pada saat (pembinaan) atlet usia remaja, harusnya semua materi diberikan. Jangan dikhususkan dulu. Misalnya, satu atlet remaja bagus di nomor tolak peluru, maka jangan kemudian dia, berlatih tolak peluru saja, tapi semuanya tetap harus diberikan.  Jadi dia merasakan semuanya.

Ketiga, menyangkut sistem pendidikan yang harus diperbaiki. Di Jerman,  ada tiga mata pelajaran olahraga yang sifatnya wajib di pendidikan dasar  yaitu Atletik, senam dan renang.  Itu bagus buat pengembangan anak ke depan.

Keempat, menyangkut pengembangan kualitas pelatih. Pelatih harus selalu dan terus menerus diberikan pelatihan dan pengetahuan baru sehingga ilmunya terus berkembang.

Menyangkut penerapan ilmu teknologi dalam program pelatihan, apakah untuk Indonesia, hal itu  sudah sangat dibutuhkan ? bagaimana dengan pemahaman tersebut, mana yang lebih diutamakan?

 Jawaban atas pertanyaan ini seperti menjawab mana yang lebih dulu antara telur dan ayam.    Tapi, kalau menurut saya, paling bagus diberikan pemahaman dulu kepada pelatih. Di Jerman, pelatih tingkat daerah, tugasnya memberikan pemahaman tingkat dasar kepada para atlet, tidak melebihi hal itu.  Nanti, jika si atlet sudah bagus, barulah Atlet di bawa ke tingkat yang lebih tinggi apakah di provinsi atau di tingkat nasional termasuk diperkenalkan dengan  teknologi dan sebagainya. Ilmu dan Teknologi penting kalau sudah menganalisa di tingkat atas.

 

Bagaimana menurut anda tentang Indonesia?

 

Orang indonesia sangat beda dengan orang Jerman. Orang Jerman sangat individual, sedangkan disini, orang Indonesia sangat ramah, setiap bertemu siapa saja menegur sapa. Kalau menurut saya luar biasa, begitu juga soal lingkungan, di Indonesia sangat luar biasa. Di Jerman, anda tak akan menemukan orang yang menyeberang jalan sembarangan. Tapi di Indonesia, orang bisa menyeberang dimana saja. Tapi meski demikian, tidak ada kecelakaan.

 

 

Dieter Kollark tersenyum simpul. Antara senang dan risih, pria asal Jerman itu  melangkah kikuk menuju kursi depan di ruang Media Centre PB PASI, Stadion Madya Senayan Jakarta.  Jumat siang pekan lalu, bersama rekan senegaranya Michael Deyhle, pelatih atletik Nasional Jerman ini dipakaikan baju batik dan blankon dihadapan puluhan atlet dan pelatih nasional oleh Sekjen Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor M. Tanjung.

Pakaian nasional dan topi khas Jawa itu diberikan PB PASI sebagai tanda terimakasih atas kehadiran kedua pelatih lempar asal Jerman tersebut di Indonesia. Tak seperti rekannya Michael Deyhle yang lebih terbuka dan murah senyum, Dieter yang berasal dari wilayah bekas Jerman Timur, memang lebih pendiam. Selama lima hari, sejak senin hingga jumat pekan lalu, Michael Deyhle dan Dieter Kollark  serta dua atlet Jerman Anna Rueh dan Carolin Paesler, membagikan ilmu atletik khususnya di nomor lempar cakram, lontar martil dan tolak peluru kepada sejumlah pelatih nasional dan daerah serta atlet Pelatnas PB PASI dalam kegiatan Coaching Clinic dan Training Camp PB PASI.

“Jadwal ‘pelatnas’ mereka (Michael dan Dieter) sendiri akan segera dimulai. Jadi, Mereka harus segera kembali ke Jerman,” urai Tigor M. Tanjung.  Meski hanya singkat, menurut pria 53 tahun, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Asosiasi Atletik Asia ini, atletik Indonesia sangat beruntung bisa mendapatkan ilmu dari dua pelatih nasional Jerman, di tengah-tengah kesibukan mereka mempersiapkan tim Jerman menghadapi Olimpiade 2016. Keduanya merupakan pelatih bertangan dingin yang sudah melahirkan banyak  atlet juara dunia.  Michael Deyhle merupakan pelatih Juara Dunia lontar martil putri 2007 dan pemegang rekor dunia Betty Heidler.

Sedangkan Dieter Kollark, adalah pelatih spesialis tolak peluru dan lempar cakram yang telah melahirkan Juara dunia tolak peluru Astrid Kumbernuss, dan Juara Dunia lempar Cakram Franka Dietzsch. Kedatangan kedua pelatih Jerman itu, lanjut Tigor, merupakan bentuk keberlanjutkan kerjasama PASI dengan Persatuan Atletik Jerman (Deutsche Leichtathletik Verband /DLV) yang sudah terjalin sejak lama. “Selain mengirim pelatih dan atlet kita ke Jerman, kita juga minta DLV untuk mengirimkan pelatih terbaiknya, dan dipenuhi mereka (DLV),” ujar Tigor.  

Kehadiran dua pelatih Jerman di nomor lempar ini, menurut Tigor, terkait target PB PASI untuk kembali melahirkan atlet-atlet nomor lempar. Saat ini, di tingkat remaja dan yunior, Atletik Indonesia memiliki harapan cukup besar pada sejumlah atlet yang memiliki prestasi cukup baik. Diantaranya pemegang rekornas lontar martil remaja asal Riau Deny Yohan Putra, atlet M, Kresno Setyo Nugroho dan pemegang rekornas yunior putri lontar martil Tresna Puspita.

Menurut wakil ketua bidang pembinaan dan Prestasi PB PASI Moh. Nanang Kusuma, dua pelatih Jerman tersebut membawa wawasan baru bagi pelatih dan atlet nasional. Metode latihan yang diterapkannya sangat berbeda dengan yang biasa digunakan para pelatih nasional. Selama pelatihan, baik Michael maupun Dieter mempertunjukan metode latihan lempar yang benar secara detail.”Setiap gerakan dari semua bagian tubuh, menjadi penting untuk bisa menghasilkan hasil yang maksimal,” ujar Nanang.

Menurut ayah tiga anak yang pernah belajar di Jerman selama lebih dari dua tahun ini,  perbedaan mendasar lainnya dalam pelatihan oleh pelatih Jerman yaitu bagaimana pelatih Jerman memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan atletnya. Perkembangan setiap atlet baik fisik maupun teknik dimonitor betul, sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan latihannya. “Ilmu dan Teknologi di Jerman sudah menjadi hal yang biasa digunakan dalam menganalisa latihan, sementara kita belum sepenuhnya menerapkan itu dalam metode latihan,” tambah Anang.   

Hal itu juga diakui atlet yunior nasional Tresna Puspita. Pemegang rekor Nasional yunior lempar cakram ini  tadinya berharap bisa lebih lama lagi dilatih kedua pelatih Jerman tersebut. Ia merasakan banyak perbedaan dalam latihan yang diberikan pelatih Jerman dibanding pelatih nasional. "Mereka lebih banyak mengajarkan teknik dan lebih bervariasi,”ungkap atlet asal Kuningan, Jawa Barat itu.

 

HF

 

 

Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) bekerja sama dengan DLV (Deutsche Leichtathletik Verband) akan mendatangkan Pelatih Nasional Atletik Jerman Michael Deyhle dan Dieter Kollark ke Indonesia awal Januari 2015. Kedua Pelatih akan diminta untuk memberikan pelatihan kepada sejumlah pelatih dan atlet nomor lempar cakram, tolak peluru dan lontar martil dari seluruh Indonesia.

Acara coaching clinic dan training camp tersebut akan berlangsung dari tanggal 5 hingga 9 Januari 2014 di Stadion Madya Senayan Jakarta.  Kedatangan keduanya juga akan ditemani dua atlet Nasional Jerman. “Mengingat bahwa para pelatih ini telah menghasilkan atlet-atlet Jerman kelas dunia, Indonesia beruntung dapat menimba ilmu dari mereka di tengah-tengah kesibukan mereka mempersiapkan tim Jerman menghadapi Olimpiade 2016,” ujar Tigor M Tanjung, Sekjen PB PASI.

Michael Deyhle adalah pelatih lontar martil nasional Jerman yang telah menghasilkan sejumlah atlet kelas dunia seperti juara dunia 2007 dan  pemegang rekor dunia lontar martil 2009 – 2011 Betty Heidler dan  peringkat 4 kejuaraan Dunia Kathrin Klaas. Sementara Dieter Kollark adalah pelatih bertangan dingin yang telah menghasilkan Juara Dunia dan juara Olimpiade 1996  Astrid Kumbernuss.  

Nomor lontar martil Indonesia kini sedang bergairah. Meski di level senior belum ada pemecahan rekor nasional sejak dipecahkan oleh Rose Herlinda  pada SEA Games di vientien, 2009 untuk nomor putri dan Dudung suhendi di nomor putra. Namun di tingkat remaja, Indonesia memiliki harapan cukup besar pada sejumlah atlet remaja dan yunior. Pada Pekan Olahraga Nasional Remaja I di Surabaya, beberapa waktu lalu, atlet asal Riau Deny Yohan Putra berhasil memecahkan rekornas lontar martil sejauh 53,55 M dari rekor sebelumnya yang dipegang Kresno Setyo Nugroho 52,72 M. Sementara di nomor Putri, Indonesia masih punya Tresna Puspita yang masih memegang rekornas lontar martil sejauh 51,62 M yang dibuat tahun 2013 lalu.

 

 

Maria seusai Pengalungan Medali emas Kedua (Foto: Adi Wijaya) 

 

Atlet Nasional asal Bali Maria Natalia Londa kembali menyumbang medali emas untuk kontingen Indonesia pada ajang ASEAN University Games (AUG) 2014 di Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (17/12/2014) . Kali Ini, Maria menyumbangkan medali emas dari nomor lompat Jangkit yang merupakan salah satu andalannya. Atletik menyumbang 3 medali emas di hari ketiga lomba atletik tersebut.

Selain Maria, emas lainnya diraih dari nomor 400 meter gawang putra. Andrian menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 52.21 detik. Medali perak milik atlet Vietnam, Cong Lich, dengan waktu 53, 16 detik dan disusul pelari Thailand yang lebih lambat 00,08 detik.

Medali emas ketiga disumbang Eki Febri dari nomor tolak peluru Putri dengan jarak lempar 13, 58 meter. Tempat kedua ditempati atlet Singapura Lee Shin Yan dengan jarak lempar 12,75 meter dan perunggu diperoleh Malaysia dengan jarak lempar 12,52 meter.

Page 5 of 12
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…