Atlet Dedeh Erawati ditempel Agustina Bawele

 

Setelah dibuka resmi rabu (20/8) lalu, Kejuaraan Nasional Atletik 2014 di stadion Rawamangun ternyata masih milik atlet-atlet pelatnas PB PASI. Atlet muda Irene Alisjahbana, Rio Maholtra, Aprilia Kartina, Guntur Ibrahim, Dwi Ratnawati hingga pelari Agus Prayogo masih mendominasi pertandingan di nomor spesialisasi masing-masing.  

Bahkan, tiga atlet senior yang akan turun di Asian games, Incheon Korea Selatan, September - Oktober mendatang yaitu Dedeh Erawati, dan Maria Londa,  belum mendapat saingan yang sepadan. Dedeh yang turun di nomor 100 meter gawang  mencatatkan waktu 13,57 detik, atau meninggalkan atlet pelatnas lainnya asal Sulawesi Utara Agustina Bawele, di nomor dua dengan catatan waktu 14,62 dan Atlet Jawa Jarat enung Neni yang mencatat 15,79 detik.

Begitu pula dengan Maria Natalia Londa di nomor lompat Jauh. Juara SEA Games ini menyumbang medali emas bagi Nusa Tenggara Timur dengan jarak lompatan sejauh 6,33 m atau jauh melampaui peringkat kedua yaitu Nova Aprilia yang melompat sejauh 5,59 m.

Meski demikian, hasil yang diraih Dedeh tersebut belum memuaskan PB PASI. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI), Tigor Tanjung, menngatakan hasil yang dicapai Dedeh jauh dari target yang diharapkan.

“Saya kurang puas. Kalau masih di angka seperti itu (13,57), peluang medali sangat sulit. Padahal, label dia kan atlet papan atas,” kata Tigor yang ditemui disela-sela Kejurnas Atletik di Stadion Rawamangun. Hal yang sama diakui  Dedeh sendiri. Dia mengakui hasil yang diraihnya di Kejurnas masih belum baik. Dedeh ditargetkan bisa mencapai limit perunggu Asian Games, yakni 13,15 detik.

“Ritual pemanasan tidak lengkap. Saya tidak bisa mencoba gawang, biasanya bisa coba starblok itu inti banget. Saya juga kesulitan karena gap sama lawan terlalu jauh, jadi tidak ada yang mendorong saya untuk lebih fight,” aku Dedeh.

Namun, Dedeh berjanji untuk terus berlatih memperbaiki kekurangannya di sisa waktu sebulan jelang gelaran Asian Games 2014. “Terus belajar konsentrasi terus sampai akhir nanti. Saya juga merasa belum mengeluarkan seluruh kemampuan saya, karena itu tidak ada lawan yang mendorong,” sebut peraih dua emas di SEA Games itu. “Lawan berat masih dari Jepang, Korea Selatan dan Kazhakstan. Saya sudah sering ketemu mereka dan saya berani,” tegasnya.

 

 

CEO Standard Chartered Indonesia Shee Tse Koon dan Sekjen PB PASI Tigor Tanjung Menandatangani MOU 

 

Jakarta, 12 Agustus 2014,

Ajang lomba half marathon, Standard Chartered Half-Marathon Indonesia (SCHMI) akhirnya mendapatkan PASI Permit dari PB PASI, selasa, 12 Agustus 2014. PASI Permit merupakan regulasi yang diterapkan PB PASI kepada para penyelenggara lomba lari, untuk mendapatkan sertifikasi kelayakan suatu lomba.

Pemberian PASI Permit ini diwujudkan dengan pendatanganan Nota Kesepahaman Bersama antara PB PASI dengan Standard Chartered Bank, selaku penyelenggara SCHMI. Menurut Sekjen PB PASI Tigor Tanjung, PB PASI menyambut baik kesungguhan Standard Chartered Bank untuk meningkatkan kualitas lomba lari  sehingga masuk kategori PASI Permit. “Kami juga gembira dengan komitmen dan dukungan Standchard  untuk memajukan olahraga lari di Indonesia, diantaranya melalui penyelenggaraan kegiatan running coaching clinic,” ujar Tigor Tanjung. .

Tigor Tanjung yang juga wakil presiden Asian Athletic Association ini menambahkan, selaku wadah organisasi Atletik nasional yang menjadi perpanjangan tangan Federasi Atletik Internasional (IAAF), PB PASI memiliki tanggungjawab moral untuk memastikan bahwa setiap lomba lari yang diadakan di Indonesia, terlaksana dengan baik dan sesuai dengan aturan Internasional. PB PASI sendiri berencana akan mengadakan sertifikasi bagi para race director maupun EO penyelenggaran lomba agar lomba yang diselenggarakan sesuai standar Internasional.

Menyelenggarakan lomba lari bagi sebagian orang, menurut Tigor, mungkin dirasakan sebagai hal yang mudah. Padahal, banyak hal yang harus diperhatikan, baik dari sisi teknik, pengorganisasian, keamanan hingga pelaksanaan tes doping. Semua, harus sesuai aturan internasional. Sehingga prestasi para atlet peserta lomba diakui secara internasional. “Harapan kami, kalangan swasta lain, khusunya para penyelenggara lomba lari, mau mengikuti jejak Standchard, agar kualitas penyelenggaraan lomba larinya, semakin baik dan sesuai standar internasional,” tambah Tigor Tanjung.

Pihak Standard Chartered Bank, selaku penyelenggara lomba sendiri berharap pemberian PASI permit di tahun kelima penyelenggaraan, akan menambah  kualitas penyelenggaraan lomba lari SCHMI sehingga masuk dalam kalender kegiatan resmi PB PASI. Menurut CEO Standchard Indonesia Shee Tse Koon,  lomba lari SCHMI yang bertemakan “Run For A Reason” ini dinilai telah banyak berperan besar dan berdampak positif bagi masyarakat sehingga perlu terus ditingkatkan baik kualitas perlombaan maupun kualitas penyelenggaraan

. “Olahraga lari merupakan kegiatan universal yang dapat dilakukan oleh siapa saja untuk meningkatkan kebugarannya. Dukungan kami dalam penyelenggaraan SCHMI ini  merupakan bagian dari komitmen Here for good kami demi terciptanya masyarakat yang sehat dan produktif,“ujar Shee Tse Koon, CEO Standchart Indonesia

Lomba yang baru  akan digelar pada  23 November 2014 di kawasan BSD Green Office Park, BSD City, Tangerang ini terdiri dari  empat kategori lomba yaitu 21K (setengah-maraton), 10K, 5K, serta kategori Fun Run yang ditujukan bagi anak-anak dan keluarga.

Sesuai dengan tema Run for a Reason, lomba ini merupakan kesempatan yang baik bagi para peserta untuk bersama-sama memberikan kontribusi bagi para penderita kebutaan yang dapat dihindari. Seluruh uang pendaftaran yang diterima oleh Standard Chartered Bank akan disumbangkan bagi program seeing is Believing.

 

 

 

Jelita Nara pada acara Pengukuhan Kontingen Indonesia ke YOG 2014 di Gedung KONI

 

Diselingi acara main angklung bersama oleh para atlet nasional, Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Rita Subowo akhirnya mengukuhkan dan melepas secara resmi kontingen atlet Indonesia untuk Olimpiade Remaja ke-2, di Gedung KOI, Senayan, Jakarta,  senin, (11/8).  Kontingen yang beranggotakan  27 atlet muda terbaik Indonesia itu akan berlaga di 10 cabang olahraga dari 28 cabang olahraga yang dipertandingkan dalam event empat tahunan ini.

Turut hadir dalam acara pengukuhan tersebut Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Kementerian Pemuda dan Olahraga, Djoko Pekik Irianto, ketua Satlak Prima, Sekjen PB PASI Tigor Tanjung dan sejumlah pengurus cabang olahraga lainnya.  Atlet lompat galah putri, Jelita Nara Idea terlihat hadir  dan menjadi salah satu dari 27 atlet pilihan yang akan berlaga di event yang akan berlangsung mulai 16 Agustus hingga 28 Agustus 2014 tersebut.  Ke-27 atlet yang dikirim adalah mereka yang telah lolos babak kualifikasi.

Jumlah kontingen Indonesia tahun ini jauh lebih besar dibanding YOG I yang berlangsung di  Singapura. Saat itu jumlah atlet Indonesia hanya 12 orang dan turun tujuh cabor dan meraih  satu perunggu lifter Dewi Safitri di kelas 53 kilogram nomor angkat besi. Jelita memiliki peluang meraih prestasi terbaik, mengingat saat kualifikasi Asia, Ia mampu bertengger di posisi ketiga.

Ketua Umum PB PASI Bob Hasan mengucapkan Selamat Kepada ketua Pengprov PASI yang baru Supi'i ST

 

Salatiga, 6 Agustus 2014

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu penyumbang atlet-atlet nasional. Sebut saja atlet Triyaningsih, Agus Prayogo hingga pelempar Cakram putri Dwi Ratnawati merupakan atlet atlet asal Jateng yang menjadi andalan Indonesia. Maka tak heran jika Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Bob Hasan menaruh perhatian khusus pada jawa tengah. "Dari daerah ini (Jateng) harus kembali meningkatkan prestasi atlet-atletnya, sehingga kembali menjadi lumbung atlet nasional," Kata Bob Hasan dalam sambutannya pada pengukuhan kepengurusan Pengprov PASI Jateng periode 2014-2018, di Salatiga, Jawa tengah Rabu (6/8).

Turut hadir dalam kegiatan yang berlangsung di ruang sidang DPRD Kota Salatiga tersebut, Walikota Salatiga Yuliyanto SE MM, Ketua DPRD Salatiga Mulyono Teddy, Ketua KONI Salatiga Dance Ishak Palit Msi, Kepala Disdikpora Salatiga Tedjo Supriyanto SE MM serta anggota Forkpinda Salatiga maupun pengurus PB PASI dan Pengcab PASI di Jawa Tengah.

Menurut Bob Hasan, Jateng memiliki potensi besar asalkan melakukan sejumlah pembenahan di antaranya peningkatan kualitas pelatih, kompetisi yang rutin digelar, sarana dan prasarana yang lengkap serta penerapan iptek dalam upaya pembangunan prestasi. Ia merujuk pada kasus cedera Triyaningsih, yang harus menjalani pemulihan di luar negeri karena pola latihan yang dilakukan selama ini masih kurang, yaitu tidak melatih bagian atas lutut hingga pinggang. 

"Empat hal tersebut mutlak harus dilakukan secara bersama-sama. Antara satu dan lainnya saling terkait dan tak terpisahkan," kata mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era Presiden Soeharto ini.

Dikatakan Bob Hasan, Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan oleh Jamaika dalam melahirkan atlet-atlet berprestasi di cabang atletik. "Di sana hampir setiap minggu digelar lomba atletik. Bagi generasi muda di sana, lari menjadi aktivitas yang tak terpisahkan," imbuhnya.

Indonesia, termasuk Jateng, dapat meniru hal tersebut. "Pengprov bekerjasama dengan pemda bisa memfasilitasi kompetisi di tingkat pelajar dengan mata lomba lari 60 meter dan 8x50 meter. Tidak perlu setiap minggu, jika mampu dilakukan secara rutin sebulan sekali pasti akan terlihat hasilnya di masa mendatang," kata Bob.

Usai pelantikan, Ketua PASI Jateng Supi'i mengaku telah memiliki sejumlah agenda pembenahan yang akan dilakukan. Namun, hal yang mendesak dilakukan saat ini adalah menyiapkan atlet untuk mengikuti kejurnas atletik di Jakarta pada 20 - 23  Agustus mendatang. "Kami menyiapkan sekitar 40 atlet pada kejurnas tersebut," kata Supi'i.

 

HF


Sekjen PB PASI Tigor Tanjung dan Anatoly Chernobay saat Menandatangani Perpanjangan Kontrak

 

 

Jakarta, 23 Juli 2014

PB PASI akhirnya memperpanjang kontrak pelatih lompat galah asal  Rusia Anatoly Chernobay. "Kontraknya diperpanjang hingga tahun 2016," kata Sekjen PB PASI Tigor Tanjung. Perpanjangan kontrak hingga dua tahun ke depan itu, menurut Tigor, setelah PB PASI melakukan evaluasi terhadap kinerja Anatoly yang didatangkan PB PASI sejak akhir 2012 lalu itu.

Menurutnya, Anatoly dianggap berhasil meningkatkan performa atlet lompat galah nasional. Salah satu atlet yang dinilai memiliki potensi untuk terus berkembang di bawah bimbingan Anatoly yaitu atlet remaja Jelita Nara Idea. Pemegang rekornas lompat galah remaja ini, terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Youth Olympic Games 2014 di Nanjing, China, 16-28 Agustus 2014 mendatang.   

Saat kualifikasi Zona Asia di Bangkok, beberapa waktu lalu,  Jelita berhasil meraih medali perunggu dengan lompatan setinggi, 3,50 meter. Juara pertama diraih atlet asal Tiongkok Chaoqun Li dengan lompatan setinggi  3,90 M. Sementara juara kedua diraih atlet Taiwan Yi Ju Shen dengan lompatan setinggi 3,80 M. Catatan lompatan terbaik atlet asal DKI Jakarta ini sendiri yaitu 3,80 Meter.

 

Jelita Nara Idea

 

Dewi Fortuna tampaknya sedang memayungi Jelita Nara Idea. Meski hanya menempati posisi ketiga nomor lompat galah putri  saat mengikuti babak kualifikasi Zona Asia Youth Olympic Games (YOG) 2014, di Bangkok, Thailand, akhir Mei 2014 lalu, gadis asal Jakarta ini, akhirnya dinyatakan berhak untuk ikut dalam Youth Olympic Games 2014 di Nanjing, China, 16-28 Agustus 2014 mendatang. “Kabar baik, itu baru datang beberapa hari lalu,” ujar Tigor M. Tanjung, Sekjen PB PASI.  

Saat kualifikasi di Bangkok, Jelita meraih medali perunggu dengan lompatan setinggi, 3,50 meter. Juara pertama diraih atlet asal Tiongkok Chaoqun Li dengan lompatan setinggi  3,90 M. Sementara juara kedua diraih atlet Taiwan Yi Ju Shen dengan lompatan setinggi 3,80 M. Menurut Tigor Tanjung, untuk bisa masuk YOG sebenarnya, dibutuhkan lompatan setinggi 3,60 Meter.  Oleh sebab itu praktis, hanya atlet Tiongkok dan Taiwan yang lolos ke YOG di Nanjing, Tiongkok.

Namun, belakangan diketahui bahwa salah satu satu dari kedua atlet tersebut ada yang mengundurkan diri sehingga kuota bagi Asia di nomor lompat galah putri, tersisa satu. “Makanya, Jelita bisa masuk, dan sekarang mulai latihan intensif dan menjadi satu-satunya atlet atletik yang ikut YOG nanti,” kata Tigor Tanjung.

PB PASI pun berharap Jelita bisa memberikan prestasi terbaiknya di arena YOG yang merupakan ajang olimpiade remaja kedua setelah sebelumnya berlangsung di Singapura pada 2010 lalu.

 

 

 Alvin Tehupeiory saat melompati gawang di jelang finish (Foto: Dok PASI/Rian Alisjahbana)

 

Impian Alvin Tehupeiory untuk berdiri di atas podium akhirnya bisa terwujud juga. Di hari terakhir kejuaraan Atletik Yunior 2014 di Taipei, Taiwan, atlet yunior putri Indonesia asal Maluku ini berhasil mempersembahkan satu medali perunggu dari nomor 400 M gawang putri. “Rasanya senang banget, karena dari kemarin memang ingin berdiri di podium juara,” kata Alvin.

 

Gadis kelahiran Ambon, 5 April 1995 yang berlari di lintasan 3 ini, sempat bersaing dengan pelari Jepang Akiko Ito di 50 M terakhir. Namun setelah melompati gawang terakhir, Alvin tertinggal dari Akiko dan justru bisa disusul oleh pelari asal Sri Lanka Kawashalya Madushani yang akhirnya menduduki posisi kedua.

 

Akiko menjadi pelari tercepat dengan waktu 58,80 detik. Sementara Kawshalya dan Alvin mencatat waktu 62,31 dan 62,39 detik. Alvin mengakui saat di 50 meter terakhir, ia tak mampu menambah kecepatannya lagi.“Sudah dipush tapi,,,gak bisa lagi (lari kencang),” tambah Alvin.   

 

Dengan tambahan medali dari Alvin, maka tim atletik Indonesia berhasil mengoleksi dua medali perunggu, setelah sebelumnya atlet Nadia Anggraini mengemasnya dari nomor lompat tinggi di hari kedua lomba. Dengan perolehan tersebut, Indonesia menduduki posisi keduapuluh dari 35 negara peserta. Posisi pertama klasemen kejuaraan atletik yunior Asia 2014 diraih tim China dengan 12 medali emas, 10 Perak dan 2 Perunggu. Urutan kedua dan ketiga diduduki tim Jepang dan Qatar.

 

Meski demikian, Tim atletik Indonesia merasa cukup bersyukur, karena 4 rekor nasional yunior berhasil dipecahkan. “Hasil ini menunjukan anak-anak (atlet) mulai mengalami peningkatan (prestasi),” ujar Boedi Darma, Manajer tim Indonesia yang juga ketua bidang Pembinaan dan Prestasi PB PASI. 

Selain Nadia Anggraini dari nomor lompat tinggi, rekornas juga berhasil dipecahkan oleh atlet Tresna Puspita di nomor lontar martil dengan lemparan sejauh 45,97 M (rekornas lama 45,86M) , Abdul Hafis di nomor lempar lembing dengan lemparan sejauh 62,30 M (Rekornas lama 62,29M) dan tim estafet putri Indonesia yang terdiri atas Irene Alisjahbana, Eka Cahaya Ningrum, Emilia Nova dan Alvin Tehupeoiry di nomor estafet 4 x 100 M dengan waktu 46,80 detik (Rekornas lama 46,99 detik) .

 

Daftar Peringkat Kejuaraan Atletik Yunior Asia 2014

            Negara            emas   perak   perunggu

  1. China  12        10        2
  2. Jepang 11        5          5
  3. Qatar   6          2          1
  4. Taiwan 4         3          8
  5. India    2          5          5

.

.

.

20. Indonesia -      -           2

 

Tresna saat memecahkan rekornas (foto: Dok PASI/Rian Alisjahbana)

 

Pada hari ketiga keikutsertaan tim atletik yunior Indonesia di ajang “2014 Asian Junior Championships’ di Taiwan, diwarnai  dengan satu lagi pemecahan rekor nasional. Atlet lontar martil putri, Tresna Puspita berhasil memecahkan rekornas yunior dengan lontaran sejauh 45,97 M atau lebih baik dari rekor lama sejauh 45,86 M. “Alhamdulillah, saya lebih fokus sehingga bisa melempar cukup jauh,” ujar Tresna yang ditemui seusai lomba.

Meski tak berhasil meraih medali, Tresna mengaku cukup senang karena bisa memecahkan rekornas. Ia Berharap, dapat melakukan lontaran lebih baik lagi di masa depan. Di Nomor lontar martil putri dimenangkan atlet tuan rumah Hsiu Wen Hung, dengan lontaran sejauh 56,81 M. Sedangkan posisi kedua dan ketiga diraih atlet asal Thailand Panwat Gimsrang (54,66 M) dan atlet Kazakhstan Diana Nussupbekova (53,81M).

Satu lagi rekornas terpecahkan di nomor estafet 4x100 putri.  Rekornas yang sudah bertahan selama  20 tahun dipecahkan atlet  Alvin Tehupeiory , Irene Alisjahbana , Eka Cahaya ,dan  Emilia Nova . Rekor lama 46.99 detik menjadi  46.80 detik. Meski begitu, tim estafet putri Indonesia gagal meraih medali, karena menduduki urutan 5 secara keseluruhan.

Kegagalan meraih medali juga dialami atlet yunior Indonesia lainnya yang bertanding hari ini. Pelari gawang putri Emilia Nova hanya bisa masuk finish di urutan keempat di nomor 100 meter gawang dengan catatan waktu 14,27 detik.Begitu pula, atlet lompat tinggi putra, Guntur Ibrahim hanya berhasil menduduki peringkat ketujuh dari 10 atlet, setelah melompat setinggi 2,00 meter. Juara pertama diraih atlet China Jia Xu Bai yang berhasil melompat setinggi 2.10 Meter. “Untuk melompat 2,03 agak berat, gak tahu kenapa, kena (palang) terus,” ujar Guntur.

Pertandingan di hari ketiga diwarnai dengan dua insiden mengharukan yang dialami dua atlet Indonesia. Sprinter Indonesia Fuad Ramadhan yang berlari di nomor 200 Meter, terpaksa menempuh sebagian lintasan lomba sambil berjalan tertatih-tatih akibat mengalami cedera pinggang. Ia terpaksa digotong ke rumah sakit setelah memasuki garis finish. Hal yang hampir sama terjadi pada sprinter Arasy Akbar Witarsa yang sempat terjatuh akibat tersangkut gawang di 20 meter pertama nomor 110 gawang. Ia memaksakan diri untuk berjalan hingga garis finish meski harus berjalan tertatih tatih dengan luka gores di tangan dan kakinya.    

 

Nadia Anggraini saat Memecahkan Rekornas Lompat Tinggi Yunior

 

Hari kedua ‘16th Asian Junior Championships’ jadi hari bersejarah bagi atlet Pelatnas Nadia Anggraini. Pelompat Tinggi putri Asal DKI Jakarta ini berhasil memecahkan rekornas yunior lompat tinggi atas namanya sendiri. Nadia yang menggunakan nomor dada 147 berhasil mencatat lompatan setinggi 1,72 meter. Lompatannya ini lebih baik, 0,01 meter dari Rekornas sebelumnya, 1,71 Meter.  “Senang banget bisa pecahkan rekornas,” ujar Nadia.

 

Kebahagiaan gadis manis kelahiran 19 Juli 1995 ini bertambah setelah tahu bahwa dirinya juga berhasil meraih medali perunggu. Nadia menyisihkan pelompat asal Malaysia Sean Yi Yap, yang sama-sama berhasil melompat setinggi 1,72 meter.  Namun, Nadia lebih baik dalam kesempatan lompatan, karena mencapai 1,72 dalam satu kesempatan lompat. Sementara Sean berhasil melewati tiang lompat di kesempatan ketiga.

 

Medali emas Lompat Tinggi diraih pelompat China Lin Wang dengan lompatan 1,88 Meter. Sementara medali perak diraih pelompat tuan rumah Taiwan Ching Ching Lee dengan 1,75M. SekJen PB PASI Tigor M Tanjung yang ikut hadir menyaksikan pertandingan di Stadion Atletik Municipal, Taipei, Taiwan, merasa bersyukur atas hasil yang diraih Nadia. “Nadia membawa angin segar di dunia atletik Indonesia karena sudah lama nomor lompat tinggi putri mati suri,” ujar Tigor Tanjung, yang juga menjabat sebagai Vice Presiden Asosiasi Atletik Asia.

 

Nadia memang cukup fenomenal sejak berhasil memecahkan rekornas yunior lompat tinggi pertama di kejurnas yunior dan remaja 2013 di stadion Madya Senayan, Jakarta. Saat itu, sulung dari dua bersaudara putri Endang Munawar yang merupakan seorang security sebuah perusahaan dan Ropida, ini memecahkan rekornas yang telah bertahan selama 24 tahun milik atlet Nini Patriona.

 

Medali perunggu yang disumbangkan Nadia, menjadi medali pertama tim atletik Indonesia di ajang ayang diikuti  lebih dari 650 atlet dari 35 Negara se-Asia ini. Pada pertandingan lain, atlet tolak peluru putra Indonesia Narta Hanny Sugara gagal meraih medali. Pemegang rekornas Yunior lempar cakram ini, hanya menduduki posisi kedelapan dari 9 atlet yang turun ke lapangan. Ia berhasil menolak peluru sejauh 14,83 meter. Juara pertama dan kedua diraih atlet Iran Shahin Mehrdelan dan Shahin Jafari dengan tolakan sejauh 18,85 dan 18,64 M. Sementara peraih perunggu Atlet asal India Shakti Solanki (17,09m) .

 

Kegagalan Narta mendulang medali juga diikuti atlet Indonesia lainnya asal Sumatera Barat M Hafis. Atlet kelahiran 2 Januari 1995 yang turun di nomor 1500 meter putra masuk garis finish ketujuh dari 10 atlet. Hafis mencatat waktu 4;03,98 .

 

Harapan tambahan medali masih terbuka luang dari beberapa nomor yang baru akan memasuki babak final, hari Sabtu dan Minggu besok yaitu dari nomor gawang 100 meter putri dan 110 meter putra, serta nomor lempar cakram, dan estafet 4 x 100.    

 

Taipei, 12 Juni 2014.

Setelah berjuang mati-matian di babak Kualifikasi nomor 100 meter putri Kejuaraan Yunior Asia 2014, sprinter putri Indonesia Irene Alisjahbana terpaksa harus mengakui keunggulan lawan-lawannya di babak semifinal, Kamis Sore waktu setempat, (12/6). “Sejak start, mereka (lawan-lawannya) sudah melesat duluan, saya sempat mengejar di paruh kedua lintasan, tapi gak bisa terkejar lagi,” ujar Irene. 

 

Atlet asal DKI Jakarta ini hanya bisa masuk finish di urutan ketujuh dari delapan pelari. Ia mencatatkan waktu 12,33 detik. Catatan waktunya ini, jauh di bawah personal best time nya, yang pernah diukir di ajang kejurnas yunior dan remaja yaitu 12,09 detik. Urutan pertama diduduki pelari China Qi-Qi Yuan dengan catatan waktu 11,80 detik dan otomatis mengantarkanya masuk final, bersama dua pelari urutan teratas lainnya yaitu pelari Singapura Shanti V Pereira (11,95) dan pelari Kazakhstan Rima Kashafutdinova (11,99). Pertandingan final akan berlangsung besok,(13/6).

 

Sementara itu Kompatriot Irene, pelari asal Jawa Timur Eka Cahya Ningrum yang juga turun di nomor 100 meter putri, telah lebih dulu gagal di babak kualifikasi. Kegagalan di nomor 100 Meter putri ini, tak menyurutkan semangat Irene untuk memberikan yang terbaik bagi tim atletik Indonesia. Irene  bertekad akan tetap berjuang di nomor 200 meter dan estafet 4 x 100 meter, Jumat (14/6) mendatang.

 

Selain Irene dan Eka Cahaya, kegagalan juga dialami sprinter putra asal Sulawesi tenggara La Ode Sadam Rumra di nomor 400 M putra. La Ode hanya masuk finish di urutan kelima pada putaran kualifikasi ketiga dengan waktu 49,26 detik. Urutan pertama dan kedua diraih atlet Arab Saudi Mazen Alyasen (47,71) dan atlet Thailand Jaturong Chimruang (48,65)

 

Kejuaraan yang berlangsung di Stadion Municipal,Taipei ini dibuka secara resmi Rabu Sore (11/6) oleh Presiden Asosiasi Atletik Asia Jenderal Dahlan Al-Hamad. Kejuaraan yang diikuti lebih dari 650 atlet dari 35 Negara se-Asia ini akan berlangsung dari tanggal 12 Juni hingga 15 juni 2014. 

Page 7 of 12
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…